Apr
29

Teknik Stereotactic Neurosurgery

Posted By: Admin

Surabaya Pagi
29 April 2013

Kelainan gerakan atau involuntary movement seperti chorea, distonia, tremor, parkinson, Tourette’s syndrome, kekakuan otot, dan nyeri sebagian tubuh setelah stroke selama ini masih menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Jumlah penderita kelainan gerakan dari tahun ke tahun masih memprihatinkan.

Spesialis bedah saraf dari National Hospital Surabaya, dr Achmad Fahmi SpBS mengungkapkan jenis kelainan gerak akibat gangguan fungsi saraf cukup beragam seperti tremor, dystonia, chorea, spastisitas dan nyeri post stroke. “Selama ini penyakit-penyakit tersebut masih menjadi momok karena belum bisa dilakukan terapi seperti ini di dalam negeri,” ujarnya.

Tindakan stereotactic neurosurgery untuk dystonia-chorea ini Implan Silikon Kini Merambah Bibir belum pernah dilakukan sebelumnya di Indonesia. Gerakan yang dialami pasien tidak terkontrol, mulai dari gerakan kaki, tangan, dan kepala yang otomatis, sampai kekakuan seluruh anggota badan.

Pada penyakit yang ringan, gangguan pergerakan dapat diatasi dengan obat-obatan. Namun pada stadium yang lebih berat yang tidak dapat diatasi dengan obat-obatan, peran stereotactic neurosurgery sangat besar. Dengan teknik ini gejala gangguan pergerakan dapat diminimalisir, bahkan dapat dihilangkan.

Stereotactic neurosurgery merupakan metode bedah saraf dengan minimal luka dapat dilakukan dalam kondisi pasien sadar. Pada saat operasi, pasien tidak merasakan nyeri dan dapat tetap berkomunikasi.

“Dengan pesatnya perkembangan ilmu kedokteran dan teknologi alat bedah maka tindakan bedah saraf dapat dilakukan dalam kondisi pasien sadar (awake surgery) tanpa merasakan nyeri selama operasi. Pasien bahkan selama operasi bisa merespon dan melakukan komunikasi langsung dengan dokter, karena saat komunikasi dengan pasien, respon terapi dapat langsung dilihat, dan dapat menghindari terjadinya komplikasi, ” ungkapnya .

Selama ini di kawasan Asia, teknik ini baru dilakukan di Jepang. Negara lain yang sudah mengembangkan teknik sejenis ada di Amerika Serikat. Untuk teknik yang baru dikembangkan di Indonesia ini, pasien dikenakan biaya mulai Rp 45 juta- Rp 50 juta. Jauh lebih hemat dibanding pasien harus melakukan terapi sejenis di Jepang. sh

Arsip