May
08

Terapi Distonia - Chorea Sudah Dapat Dilakukan di Indonesia

Posted By: Admin

Siaran Pers
No. 02/NH/IV/2013

Terapi Distonia-Chorea Sudah Dapat Dilakukan di Indonesia
Dengan Teknik Stereotactic Neurosurgery

Surabaya | Kelainan gerakan atau involuntary movement seperti chorea, distonia, tremor, parkinson, Tourette’s syndrome, kekakuan otot, dan nyeri sebagian tubuh setelah stroke selama ini masih menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Jumlah penderita kelainan gerakan dari tahun ke tahun masih memprihatinkan. Banyak penderita yang masih mengalami kelainan pergerakan meskipun diobati dengan obat-obatan minum maupun suntik. Informasi yang belum sampai tentang hal ini menyebabkan banyak pasien melakukan tindakan medis di rumah sakit di luar negeri.

Spesialis bedah saraf dari National Hospital Surabaya, dr Achmad Fahmi SpBS mengungkapkan jenis kelainan gerak akibat gangguan fungsi saraf cukup beragam. Secara umum jenis gangguan syaraf ini dapat dibedakan dari gejala kelainan gerak, seperti tremor, dystonia, chorea, spastisitas dan nyeri post stroke. Tindakan stereotactic neurosurgery untuk dystonia-chorea ini belum pernah dilakukan sebelumnya di Indonesia. Gerakan yang dialami pasien tidak terkontrol, mulai dari gerakan kaki, tangan, dan kepala yang otomatis, sampai kekakuan seluruh anggota badan.

Menurutnya pengobatan dengan teknik stereotactic neurosurgery dapat bermanfaat bagi pasien dengan gangguan pergerakan, baik itu gangguan gerakan kaki, tangan, wajah, maupun seluruh tubuh. Pada penyakit yang ringan, gangguan pergerakan dapat diatasi dengan obat-obatan, sedangkan pada stadium yang lebih berat yang tidak dapat diatasi dengan obat-obatan, peran stereotactic neurosurgery sangat besar. Dengan teknik ini gejala gangguan pergerakan dapat diminimalisir, bahkan dapat dihilangkan.

Perkembangan teknologi medis dan teknik bedah saraf yang kian modern, berhasil menciptakan metode dan teknik bedah saraf yang tidak lagi menakutkan saat ini. Melalui metode stereotactic neurosurgery, pasien penderita kelainan gerak akibat gangguan fungsi saraf dapat disembuhkan sehingga kualitas hidup pasien pun meningkat.

“Sebenarnya teknik stereotactic neurosurgery untuk gangguan pergerakan seperti dystonia, chorea, parkinson ini sudah sangat lama digunakan diluar negeri, tetapi belum dilakukan di Indonesia,” ungkapnya.

Stereotactic neurosurgery merupakan metode bedah saraf dengan minimal luka dapat dilakukan dalam kondisi pasien sadar. Pada saat operasi, pasien tidak merasakan nyeri dan dapat tetap berkomunikasi.

“Dengan pesatnya perkembangan ilmu kedokteran dan teknologi alat bedah maka tindakan bedah saraf dapat dilakukan dalam kondisi pasien sadar (awake surgery) tanpa merasakan nyeri selama operasi. Pasien bahkan selama operasi bisa merespon dan melakukan komunikasi langsung dengan dokter, karena saat komunikasi dengan pasien, respon terapi dapat langsung dilihat, dan dapat menghindari terjadinya komplikasi, ” ungkapnya lebih lanjut.

Inovasi pembedahan seperti itu diyakini menghasilkan risiko terkecil dan tingkat keberhasilan yang lebih baik. Penanganan minimal invasive neurosurgery sudah bisa dilakukan saat ini untuk berbagai kasus kelainan pembuluh darah maupun kelainan lain pada otak dan sistem saraf.

Tindakan bedah saraf ini kini sudah berhasil dilakukan di Surabaya. Pada awal April 2013, tim bedah saraf, anestesi, dan radiologi berpengalaman National Hospital Surabaya sukses melakukan operasi dystonia-chorea atau kelainan gerak akibat gangguan fungsi saraf, pertama di Indonesia.

Pasien penderita dystonia-chorea mengalami gerakan yang tidak terkontrol, ditandai dengan tangan pasien yang bergerak sendiri dan semakin lama merambat ke seluruh tubuh, bahkan saat berjalan maupun saat pasien tidur. Kondisi ini menyebabkan pasien mengalami kesulitan untuk makan dan minum sehingga kualitas hidup pasien menurun.

“Setelah operasi, pasien sudah dapat mengendalikan gerakan 80 – 90 persen,” kata dr Fahmi yang juga selaku ketua tim bedah saraf.

Stereotactic Biopsy

Sedangkan pada pasien dengan penderita tumor, telah dilakukan stereotactic biopsy untuk mengambil contoh tumor yang letaknya sangat dalam di otak, tanpa membuka tengkorak kepala dengan besar. Dengan teknik stereotactic neurosurgery ini, kerusakan otak yang diakibatkan dapat diminimalkan, lubang yang dibuat di kepala hanya 1 cm, dan alat yang digunakan untuk mengambil tumor hanya berdiameter 0,25 cm.
Selain tumor, stereotactic neurosurgery ini juga dapat dilakukan untuk mengambil contoh jaringan yang sangat dalam di otak, dan beberapa fungsi yang lainnya.

Dukungan Teknologi Medis Terkini

Metode stereotactic neurosurgery hanya memerlukan satu atau dua sayatan dan lubang kecil dengan diameter sekitar 1 cm. Tindakan bedah ini terbilang sangat komplek karena memerlukan ketelitian dan kecermatan dalam analisa dan menentukan titik operasi.

Untuk menentukan jenis tindakan dan titik bedah secara akurat maka dukungan teknologi terbaru seperti Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan CT Scan mutlak diperlukan.

“Dengan hasil gambar yang jelas dan cakupan area pemindaian yang lebih luas pada bagian otak, dokter dapat melakukan tindakan dengan akurasi dan hasil yang lebih baik, dan risiko yang lebih kecil,” kata dr. Fahmi lebih lanjut.

Menurutnya, metode bedah Stereotactic Neurosurgery memerlukan dukungan teknologi medis untuk membantu akurasi diagnosa dan dalam melakukan tindakan medis. Pada saat ini National Hospital memiliki teknologi MRI 3 Tesla Wide Bore pertama di Indonesia yang dilengkapi dengan 32 channel coils sehingga menghasilkan gambar lebih jelas (High Definition) dan proses pemeriksaan lebih cepat (High Speed).

Keunggulan teknologi tersebut dipadukan dengan penggunaan CT Scan 128 slices yang membantu dokter mendefinisikan secara tepat lokasi, derajat, dan aktivitas dari penyakit. Ditambah dengan dukungan berbagai aplikasi piranti lunak canggih sangat membantu dokter radiologi untuk mendiagnosis kelainan dengan cepat, tepat dan akurat.

Penggunaan dan penggabungan fungsi beragam teknologi medis terbaru ini, pada akhirnya sangat memantu dokter membuat rencana perawatan lebih akurat. Penggunaan teknologi ini diharapkan akan mampu membantu dalam menangani pasien secara lebih baik.

***

Tentang National Hospital

National Hospital adalah rumah sakit baru yang dikembangkan oleh PT Surabaya Jasa Medika, perusahaan patungan antara PT Istana Mobil Surabaya Indah member of PT Istana Kemakmuran Motor dan PT Grande Family View, anak usaha pengembang properti nasional PT Intiland Development Tbk. Dihadirkan untuk memenuhi kebutuhan dan gaya hidup sehat masyarakat, National Hospital menawarkan pelayanan kesehatan profesional dan terpadu dengan mengedepankan prinsip-prinsip peduli, terpercaya, dan mengutamakan kesehatan pasien. Rumah sakit ini berlokasi di kawasan Graha Famili, tepatnya di jalan utama Lingkar Dalam Barat Surabaya yang menjadi kawasan bisnis baru yang berkembang sangat pesat di Surabaya. Rumah sakit ini dikembangkan dengan dasar acuan yang menerapkan standart ramah lingkungan serta hemat energi yang membawa dampak positif bagi pemulihan pasien dan kesehatan keluarga pasien. Selain dilengkapi peralatan medis yang terbaik, rumah sakit ini menerapkan prinsip smart building dan bangunan ramah lingkungan. National Hospital didesain oleh arsitek berpengalaman dari Singapura, yaitu Prof. Tay Keng Soon dari Akitek Tenggara Singapore yang bekerjasama dengan Forum Architect Singapore dengan desain modern yang mengacu kepada standart ramah lingkungan dan hemat energi. Prof. Tay Keng Soon adalah arsitek yang merancang KK Woman & Children Hospital Singapore.

Arsip