Apr
25

kabarbisnis.com : Stereotactic Neurosurgery

Posted By: Admin

National Hospital kembangkan teknik Stereotactic Neurosurgery atasi kelainan gerakan.

SURABAYA, kabarbisnis.com: Rumah Sakit National Hospital Surabaya mengembangkan terapi Distonia-Chorea yang pertama dilakukan di Indonesia dengan teknik Stereotactic Neurosurgery. Rumah sakit baru yang dikembangkan oleh PT Surabaya Jasa Medika, perusahaan patungan antara PT Istana Mobil Surabaya Indah dan PT Grande Family View, anak usaha pengembang properti nasional PT Intiland Development Tbk ini mengklaim menjadi satu-satunya rumah sakit di Indonesia yang bisa melakukan teknik terapi untuk penyembuhan penyakit kelainan gerakan atau involuntary movement dengan teknik Stereotactic Neurosurgery.

Spesialis bedah saraf dari National Hospital Surabaya, dr Achmad Fahmi SpBS mengatakan, jenis kelainan gerak akibat gangguan fungsi saraf cukup beragam  seperti chorea, distonia, tremor, parkinson, Tourette's syndrome, kekakuan otot, dan nyeri sebagian tubuh setelah stroke. “Selama ini penyakit-penyakit tersebut masih menjadi momok karena belum bisa dilakukan terapi seperti ini di dalam negeri,” ujarnya kepada wartawan, Rabu (24/4/2013).

Jumlah penderita kelainan gerakan pun dari tahun ke tahun terus bertambah. Banyak penderita yang masih mengalami kelainan meskipun diobati dengan obat-obatan minum maupun suntik.

Ia menambahkan, tindakan stereotactic neurosurgery untuk dystonia-chorea ini belum pernah dilakukan sebelumnya di Indonesia. Dengan teknik ini gejala gangguan pergerakan dapat diminimalisir, bahkan dapat dihilangkan.

"Sebenarnya teknik stereotactic neurosurgery untuk gangguan pergerakan seperti dystonia, chorea, parkinson ini sudah sangat lama digunakan diluar negeri, tetapi belum dilakukan di Indonesia,” tuturnya.

Selama ini di kawasan Asia, teknik ini baru dilakukan di Jepang. Negara lain yang sudah mengembangkan teknik sejenis ada di Amerika Serikat.

Stereotactic neurosurgery merupakan metode bedah saraf dengan minimal luka dapat dilakukan dalam kondisi pasien sadar. Pada saat operasi, pasien tidak merasakan nyeri dan dapat tetap berkomunikasi.

Untuk teknik yang baru dikembangkan di Indonesia ini, pasien dikenakan biaya mulai Rp 45 juta- Rp 50 juta. Jauh lebih hemat dibanding pasien harus melakukan terapi sejenis di Jepang. Kbc8

http://www.kabarbisnis.com/read/2838524

Arsip