Mar
24

Herlince Sonbai, 20 Tahun Derita Parkinson, Terobati dengan Satu Bidikan di Saraf Main Seruling di Meja Operasi saat Otak Diutak-atik

Posted By: Admin

Sumber: http://www.jawapos.com/baca/artikel/8339/Main-Seruling-di-Meja-Operasi-saat-Otak-Diutak-atik

 

TEROBOSAN: Herlince Sonbai kini sudah bisa tertawa. Dia dioperasi dalam keadaan sadar. (Herlince Sonbai for Jawa Pos)

Pengalaman Herlince Sonbai memang menegangkan. Di usia kepala tujuh, dia menjalani operasi saraf. Teknologi National Hospital Surabaya memungkinkannya melakukan hobinya saat terbaring di meja operasi.

Pengalaman Herlince Sonbai memang menegangkan. Di usia kepala tujuh, dia menjalani operasi saraf. Teknologi National Hospital Surabaya memungkinkannya melakukan hobinya saat terbaring di meja operasi.

* * *

KATA operasi sudah bikin bergidik. Mendebarkan. Terlebih, tindakan medis itu dilakukan pada usia senja, pada organ tubuh yang begitu vital pula. Misalnya, otak. Risikonya seabrek. Melenceng sedikit, hasilnya fatal. Kalau bukan nyawa yang melayang, bagian-bagian tubuh bisa tidak berfungsi. Lumpuh.

Karena itu, pasien selalu dioperasi dalam keadaan tidak sadar atau dibius. Kalau pasien sadar dan bergerak-gerak, bisa-bisa hasil operasi tersebut kacau.

Tetapi, jalan mendebarkan itulah yang ditempuh Herlince Sonbai. Perempuan 71 tahun tersebut adalah warga Kupang yang menderita parkinson sejak 1994. Keberaniannya bukan hanya soal keputusan operasi saat umur kepala tujuh itu. Namun, dia menjalani tindakan tanpa bius total.

Bahkan, saat tim dokter saraf dari National Hospital Surabaya mengutak-atik isi kepalanya, Herlince justru asyik meniup seruling. Bukan untuk aksi gagah-gagahan, melainkan menunjukkan kepada tim dokter bahwa parkinsonnya sudah sembuh. Sebab, penyakit selama dua dekade itu memang membikin gangguan pada anggota gerak atasnya. Kepala hingga mulutnya bergetar dan miring.

Lidya, anak ketiga Herlince, menyaksikan ’’keajaiban’’ tersebut. Ibu rumah tangga itu menyatakan heran saat menyaksikan operasi ibunya pada Juli tersebut. Terlebih, saat ibu Lidya berseruling tatkala dokter beraksi. ”Kepalanya itu dimasuki jarum panjang. Terus Mama diminta bermain seruling,” beber Lidya.

Menurut ibu tiga anak itu, Herlince menderita parkinson sejak 1994. Tanpa ada penyebab pasti, dua tangannya bergetar. Awalnya belum terlalu kentara. Getaran atau tremor itu masih bisa teredam. Ibunya pun masih bisa merapikan rumah, memasak, hingga mengangkat barang dagangan di toko. ”Mama itu punya toko di Kupang. Dia masih kuat untuk mengangkat kardus atau galon,” ucapnya.

Namun, seiring bertambahnya usia, getaran itu mulai menunjukkan eksistensinya. Makin lama makin kentara. Dua tangannya bergetar. Bahkan, merembet hingga ke kepala dan mulut. Lidya dan keluarga berpikir, getaran itu terjadi karena sang ibu doyan angkat-angkat.

Sang anak pun mengatakan, getaran itu kerap muncul tatkala sang ibu sedang marah dan emosi. Tapi, lambat laun, tremor tersebut terus-menerus terjadi. Setiap saat, tangan Herlince bergetar. Meski demikian, nenek 25 cucu itu belum merasa terganggu. Sebab, dia masih bisa beraktivitas dengan baik. Tremor tersebut tidak menjadi penghalangnya.

Tetapi, lama-kelamaan Herlince malu. Goyangan tubuhnya menjadi perhatian orang lain. Misalnya, saat pesta. Ketika mengambil makanan, mangkuk sup bergoyang hebat hingga menjadi tontonan. ”Kan jadi nggak enak. Tiap ke pesta dan makan, pasti goyang terus,” ungkap Lidya dengan logat timur nan kental.

Malu dan sungkan dengan para tamu, ibu tujuh anak itu lantas bertandang ke dokter. Dokter di daerah hingga Jakarta pun disambanginya. Yang dicari hanya satu. Kesembuhan.

Namun, kesembuhan tersebut rupanya sulit dicari. Perempuan kelahiran 1943 itu hanya diberi obat-obatan. Tetapi, tangannya masih gemetar. Lidya yang tinggal di Surabaya ikut kelimpungan mencari dokter.

Berdasar berbagai diagnosis, terbukti bahwa Herlince menderita parkinson. Penyakit itu menyerang saraf gerak. Akibatnya, bagian tubuh tertentu terus bergerak atau bergetar.

Selama ini pasien parkinson hanya diberi obat-obatan. Kalau obat itu mandek, sebagian tubuh mengalami dystonia atau gerakan yang tidak terkontrol. Solusinya, pasien harus menenggak obat sepanjang usia. Itu juga yang dialami Herlince.

Selama 20 tahun, perempuan yang juga piawai bermain harmonika tersebut dirundung sendu. ”Memegang gelas saja nggak bisa. Getar semua,” sambung Lidya, 44. Bahkan, getaran itu merambat ke suaranya. Bergetar seperti suara bervibra. Namun, dengan getaran yang tak terkendali.

Suaranya pun tidak stabil. ”Ibu saya itu kan hobi bermain seruling. Suara serulingnya jadi jelek karena mulutnya ikut bergetar,” sambung warga Darmo Indah, Surabaya Barat, itu.

Namun, setelah berkelana bertahun-tahun, baru pada Juni lalu parkinson Herlince terobati. Bukan dengan obat, namun dioperasi. Informasi soal penanganan parkinson tak lantas diterimanya mentah-mentah. Sebab, pengobatannya bukan dengan obat, tapi operasi. ”Namanya operasi itu pasti ngeri. Risikonya kan besar,” jelasnya. Lidya pun memutuskan untuk berdiskusi dengan keluarga besar.

Untung, Herlince termasuk perempuan pemberani. Risiko apa pun bakal diambilnya, asalkan itu berdampak baik. Dia juga tertarik melakukan hal-hal baru. Bagi dia, hidup dan mati hanya di tangan Tuhan. Tak heran saat disarankan operasi, dia mantap menerima tantangan tersebut.

Pencarian keluarga Sonbai itu akhirnya dipungkasi dr Achmad Fahmi SpBS. Di tangannya, penyakit yang termasuk kelainan gerak tubuh atau movement disorder (MD) itu teratasi. Menurut dokter tersebut, 70 persen penyakit parkinson disebabkan trauma kepala. Sedangkan 30 persen lainnya disebabkan hal yang tak diketahui atau idiopatik. Umumnya baru terjadi saat usia di atas 50 tahun.

Dengan segala pertimbangan soal besar dan kecilnya risiko, tepat 8 Juli 2014 Herlince naik meja operasi. Namun, namanya anak, Lidya pasti sangat mengkhawatirkan orang tuanya. Dia pun meminta untuk ikut melihat proses operasi. Sebab, dr Fahmi mengatakan, operasi hanya menggunakan lubang kecil. Ukurannya 1 milimeter.

Tanpa membuka tempurung kepala pasien, alumnus FK Universitas Airlangga itu memakai stereotactic neurosurgery (alat berbentuk seperti busur untuk membidik titik tertentu). Alat itu lantas disterilkan sebelum dibidikkan pada pusat saraf penghasil dopamin. Itu adalah pusat pengendali keseimbangan tubuh.

Kepada Jawa Pos pekan lalu, dokter Fahmi mengakui bahwa operasi parkinson bisa dilakukan secara minim risiko. Dengan alat yang canggih, parkinson bisa terobati. Bahkan, pasien dapat ditangani dalam keadaan sadar. ”Kalau pasien sadar, kami langsung tahu apakah operasi itu berhasil atau tidak,” ungkapnya.

Betul juga, hasil teknik tersebut langsung terlihat saat Herlince ada di meja operasi. Tangannya kukuh menggenggam seruling. Jemarinya sangat lincah menutup lubang seruling. Bahkan, tak seperti orang yang sakit. Suaranya yang tadinya fals kini menjadi mulus.

Getaran suaranya sirna. Tiap not yang dibunyikan kian merdu. Itu semua dilakukan di atas meja operasi sambil tim dokter menyetel sarafnya. Hasil operasi berdurasi satu jam tersebut langsung terlihat. Kini Herlince bisa menikmati hobinya dengan lebih indah tanpa gerakan-gerakan tak terkendali. (*/c7/dos)

Arsip