May
17

Brain is Time, Team, & Trail. National Hospital's Comprehensive Stroke Center will be supported with an Advanced Technology The Silent Scan-MRI- 1st in Indonesia

Posted By: Admin

Mendengar tentang penyakit stroke, hal yang mungkin terbayang pertama kali adalah kelumpuhan, kecacatan permanen, dan kematian. Ya, stroke memang tidak berubah, muncul tiba-tiba dan mematikan. Hal yang berubah adalah cara pandang dan pendekatan medis mengenai penyakit ini.

Dahulu, tidak banyak usaha yang dapat ditempuh untuk mendeteksi dan mengobati pasien stroke. Namun dalam beberapa tahun terakhir, dunia kedokteran berhasil mencapai berbagai perkembangan signifikan yang sangat membantu pengenalan dan pengobatan stroke.

 

BRAIN IS TIME, TEAM, TRAIL (3T)

 

Kunci penanganan stroke adalah kecepatan (time) dan kerjasama berbagai ahli medis (team) yang diatur dalam suatu sistem atau protokol ilmiah yang tervalidasi (trail). Stroke perlu ditangani segera karena adanya sumbatan aliran darah menyebabkan sel-sel otak mati setiap detik setelah serangan. Sel otak yang mati tidak dapat digantikan oleh sel yang baru. Inilah mengapa kita perlu bergerak cepat demi mencegah perluasan kerusakan otak. Penanganan stroke yang definitif pada periode waktu tertentu (disebut golden period) akan dapat memberikan hasil yang terbaik.

Namun Anda perlu tahu bahwa tidak semua RS adalah sama. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa penanganan stroke akan menjadi lebih efektif dan optimal di RS yang memiliki layanan stroke secara dedicated (stroke center). Hal ini karena stroke adalah penyakit yang kompleks namun perlu ditangani dengan cepat dan tepat, sehingga penanganan stroke yang terbaik memerlukan kerjasama tim multidisiplin (team) yang berjalan dalam sistem atau protokol ilmiah (trail). Faktor team dan trail ini tidak bisa sembarang dijumpai di setiap RS. Hanya RS yang telah didesain secara khusus sejak awal dan berdedikasi dalam pelayanan stroke-lah yang dapat bekerja optimal. Terlebih istimewa apabila RS tersebut juga berstatus comprehensive stroke center (CSC) yang ditandai dengan adanya unit khusus yang dapat melakukan prosedur berketerampilan tinggi yang dapat mendeteksi dini potensi kerusakan pembuluh darah hingga memulihkan aliran darah otak yang tersumbat (disebut unit neuroendovaskuler).

 

COMPREHENSIVE STROKE CENTER NATIONAL HOSPITAL SURABAYA

 

National Hospital memiliki pusat layanan stroke komprehensif (CSC) yang telah berjalan efektif. CSC National Hospital telah memenuhi kriteria sertifikasi American Heart Association/American Stroke Association (AHA/ASA) and The Joint Commission sebagai layanan stroke dengan level sertifikasi tertinggi yang ada saat ini. Termasuk disini adalah penggunaan obat trombolitik pada stroke akut yang dilakukan oleh dokter spesialis saraf National Hospital yang berpengalaman, dr. Agoes Willyono, Sp.S.

Salah satu pilar utama CSC National Hospital adalah unit neuroendovaskuler. Unit ini beroperasi penuh dan diketuai oleh dokter ahli bedah saraf konsultan neuroendovaskuler, dr. Nur Setiawan Suroto, Sp.BS. Berbagai prosedur yang bertujuan untuk diagnosis, pencegahan, dan penyelamatan stroke dapat dikerjakan oleh unit ini. Diantaranya adalah prosedur digital subtraction angiography (DSA) untuk diagnosis kelemahan dinding pembuluh darah yang rawan pecah dan menimbulkan stroke (dikenal dengan aneurisma serebral) serta upaya untuk mencegah pecahnya pembuluh tersebut melalui pemasangan koil endovaskuler. Tindakan ini bersifat minimal invasif, yakni tidak memerlukan pembedahan otak, namun menggunakan kateter. Tindakan ini memerlukan keahlian dan pengalaman ekstensif, sehingga derajat keamanan serta efektivitas penempatan koil yang lebih tinggi akan tercapai bila dilakukan oleh seorang dokter bedah saraf konsultan neuroendovaskuler.

Pada pasien stroke yang masih dalam golden period dapat dilakukan prosedur trombektomi mekanis, yakni upaya membebaskan sumbatan pembuluh darah otak dari bekuan darah menggunakan kateter. Prosedur ini relatif baru namun berkembang pesat di AS dan Eropa. Keuntungan dari prosedur ini adalah bersifat minimal invasif (tidak melakukan pembedahan otak), sangat efektif, dengan komplikasi yang minimal. Berbagai penelitian telah mengkonfirmasi bahwa prosedur trombektomi mekanis lebih efektif mengembalikan aliran darah otak yang tersumbat, serta memiliki kemananan yang sama terhadap risiko perdarahan otak dibanding pengobatan standar.

Pada pasien stroke perdarahan yang terpaksa harus menempuh operasi pun bisa dilakukan dengan teknik minimal invasif melalui teknik stereotaktik aspirasi. National Hospital merupakan salah satu pionir dalam penggunaan metode stereotaktik yang salah satunya bisa digunakan pada penanganan stroke.

Selain penanganan yang tepat, diagnosis stroke penting dikonfirmasi segera menggunakan radiologi diagnostik. Seringkali pasien datang pada golden period namun tidak bisa mendapatkan terapi yang terbaik akibat upaya deteksi stroke yang berbelit dan tidak efisien. CSC National Hospital memiliki kemampuan advanced imaging berupa MRI 3 Tesla dengan teknologi diffusion weight imaging (DWI) yang memungkinkan untuk mendeteksi stroke dengan akurasi, spesifisitas lokasi anatomis, dan resolusi yang lebih tinggi dibandingkan MRI konvensional.

 

SILENT SCAN MRI - SILENZ TECHNOLOGY

 

Dalam waktu dekat, MRI di CSC National Hospital akan diperbarui menggunakan teknologi Silent Scan (Silenz technology - GE Healthcare), yakni teknologi akuisisi data mutakhir yang mampu menghilangkan getaran mekanis dan suara bising pada MRI konvensional sehingga menghasilkan emisi suara terendah di kelasnya. Sebagai perbandingan, intensitas kebisingan MRI konvensional mendekati kebisingan mesin jet pesawat yang terbang pada ketinggian 300 meter. Sedangkan Silent Scan menghasilkan suara yang mendekati suara percakapan normal pada jarak 1 meter. Simulasi perbandingan suara antara MRI konvensional dan MRI dengan Silent Scan dapat didengarkan di website National Hospital (http://www.national-hospital.com/).

MRI dengan emisi suara yang rendah akan meningkatkan kenyamanan dan ketenangan pasien sehingga mengurangi kesalahan dalam pengambilan gambar, meningkatkan akurasi dan ketajaman gambar, serta mempercepat waktu diagnosis.

Arsip