Mengalami cedera saat beraktivitas tentu menjadi pengalaman yang tidak diinginkan, terlebih jika cedera tersebut membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk berjalan. Hal ini yang dialami oleh pasien dr. Henry Ricardo, Dokter Spesialis Orthopaedi & Traumatologi konsultan Foot & Ankle di National Hospital bernama Ny. Yulia Budianto.
Wanita berusia 39 tahun menceritakan kejadian ini berawal dari sebuah insiden terjatuh di awal Juni saat dirinya berada di sebuah hotel di Surabaya. Pasien langsung merasakan nyeri hebat disertai pembengkakan pada pergelangan kaki sampai membuatnya kesulitan untuk berdiri dan berjalan seperti biasanya.
"Di awal bulan Juni saya jatuh di salah satu hotel di Surabaya. Setelah itu kaki saya bengkak dan meradang. Pada saat jatuh, saya enggak bisa jalan 10 menit. Jadi persis setelah jatuh kayaknya saya perlu waktu 10 menit untuk berdiri, baru setelah itu 10 menit lagi saya baru bisa jalan tertatih-tatih keluar dan saya langsung ke IGD. Dari sana disarankan untuk menjalani rontgen dan MRI," ujar Ny. Yulia.
Hasil pemeriksaan MRI menunjukkan adanya cedera ligamen yang cukup serius, yaitu partial tear pada ligament ATTL serta complete tear pada ligament ATFL. Setelahnya, pasien memutuskan berkonsultasi dengan dr. Henry Ricardo. Pada konsultasi pertama, dr. Henry melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi cedera.
Meski demikian, berbeda dari yang dibayangkan pasien, keputusan untuk menjalani operasi tidak langsung diambil. Dokter Henry justru menyarankan untuk mencoba terapi konservatif terlebih dahulu dengan fisioterapi. Rupanya, pendekatan tersebut justru memberikan rasa tenang bagi pasien.
Hal yang paling berkesan bagi pasien adalah pendekatan dr. Henry yang tidak terburu-buru mengambil tindakan. Sebab sebelum bertemu dr. Henry, pasien telah mencari berbagai pendapat dari dokter lain, bahkan hingga di luar kota dan hampir seluruhnya memberikan rekomendasi yang sama yakni langsung menjalani operasi. Namun pengalaman berbeda dirasakan saat berkonsultasi dengan dr. Henry.
"Jujur saya kan takut operasi, dan sama beberapa saudara sudah ditanyakan ke kenalan dokter-doktertulang bahkan di luar kota, semua statement mereka sama: langsung operasi. Dr. Henry satu-satunya dokter yang Waktu itu bilang tidak perlu langsung operasi. Beliau ingin melihat dulu apakah fisioterapi bisa mengembalikan fungsi kaki saya. Kalau memang tidak memungkinkan, baru operasi," sambungnya.
Setelah menjalani fisioterapi selama kurang lebih dua minggu, pasien kembali berkonsultasi. Saat itu, pasien juga memiliki rencana perjalanan pada akhir September. Berdasarkan perkembangan kondisi dan kebutuhan aktivitas pasien, akhirnya diputuskan bahwa operasi merupakan pilihan terbaik.
Saat akhirnya menjalani operasi, pasien telah mempersiapkan diri dengan baik. Meski demikian, tindakan operasi ternyata berlangsung lebih lama dari perkiraan. Sebelumnya, dr. Henry memang telah menjelaskan bahwa hasil MRI hanya dapat menunjukkan adanya robekan ligamen, sementara tingkat kerusakan sebenarnya baru dapat diketahui saat operasi berlangsung.
"Awalnya diperkirakan sekitar dua jam. Tapi ternyata robekannya menyebar, sehingga perlu penanganan yang lebih kompleks. Beliau menjelaskan dengan sangat detail. Karena robekannya semburat, jaringan harus dirapikan dan menggunakan jaringan lain agar ligamen bisa diikat kembali. Itu yang membuat operasinya lebih lama," lanjut Ny. Yulia.
Bagi pasien, komunikasi yang jelas dan terbuka dari dokter menjadi salah satu hal yang paling berkesan selama menjalani pengobatan. Pendekatan yang tidak terburu-buru, komunikasi yang jelas, serta mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan pasien menjadi alasan mengapa beliau merasa yakin menjalani seluruh proses pengobatan di National Hospital.
"Saya belum pernah masuk rumah sakit sebelumnya, jadi sempat takut. Tapi setelah menjalani semuanya, saya merasa bersyukur karena mendapatkan penanganan yang tepat dan pelayanan yang sangat baik," tutup Ny. Yulia.
Selain puas terhadap penanganan medis yang diberikan, pasien juga mengapresiasi pelayanan selama menjalani perawatan di National Hospital. Menurutnya, tenaga keperawatan selalu sigap membantu setiap kebutuhan pasien dengan ramah. Tak hanya pelayanan medis, pasien juga merasa nyaman dengan fasilitas yang tersedia, termasuk makanan selama masa perawatan yang dinilai enak dan berbeda dari rumah sakit lainnya.