Bawa Inovasi Operasi dari Dunia ke Indonesia!

Baginya fellowship bukan soal observasi dan belajar. Tapi harus membawa metode bedah lutut dan pinggul modern di Indonesia. Perjalanan dr. Glen Purnomo, Sp.OT, Subsp.PL(K) mencari ilmu melalang buana. Pelatihan bergengsi ke Asia hingga Eropa dia ikuti meski tidak mudah. Sebab arus bersaing dengan dokter di seluruh dunia.

WAHYU ZANUAR BUSTOMI, Jawa Pos

Bunyi instrumen logam di ruang operasi itu baginya sudah seperti irama. Tangan kirinya menahan posisi tulang, sementara tangan kanan memegang bor kecil yang menembus jaringan dengan presisi milimeter. Di wajahnya, tak ada sedikit pun keraguan.

Setiap kali mengenakan jas hijau steril itu dr. Glen Purnomo, Sp.OT, Subsp.PL(K) seperti sedang membawa pulang potongan pengalaman dari berbagai negara yang pernah dia singgahi. Bukan hanya sekadar gelar “fellowship” yang disandang, tapi juga ilmu, teknik, dan kepekaan baru dalam dunia bedah tulang. Dari laptopnya, dia menjelaskan detai beberapa metode operasi yang dibawanya dari luar negeri.

Lulus sebagai dokter terbaik dari Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah Surabaya. Glen melanjutkan pendidikan spesialis ortopedi di Philippine Orthopedic Center, salah satu pusat ortopedi terkemuka di Asia Tenggara. Dia mencatat prestasi membanggakan peringkat pertama nasional dalam ujian in-training examination se-Filipina.

Dari sana, pintu dunia terbuka. Glen terpilih mengikuti Hip & Knee Arthroplasty Fellowship di LMU Klinikum Großhadern, München, Jerman. Dia menjadi satu-satunya peserta dari Indonesia yang lolos seleksi ketat itu. Selama pelatihan, Glen ikut menangani lebih dari seratus operasi pasien pinggul dan lutut bersama profesor dan ahli bedah Eropa. Setiap hari memegang instrumen, mencatat teknik, dan menyerap filosofi presisi tanpa kompromi. “Bisa belajar langsung di ruang operasi yang menangani ratusan kasus itu pengalaman luar biasa,” kenangnya.

Petualangan akademiknya berlanjut ke Singapura. Di Singapore General Hospital, Glen belajar di bawah bimbingan Prof. Yeo Seng Jin tentang Kinematic Alignment & ERAS untuk TKR/UKA—metode yang menyesuaikan sudut alami tubuh tiap pasien agar hasil operasi terasa natural dan pemulihan jauh lebih cepat. Dari ratusan pasien yang ia tangani di sana, Glen melihat bagaimana konsep personalized alignment memberi dampak signifikan terhadap kenyamanan pasien pascaoperasi. "Di sana saya benar-benar belajar bahwa detail sekecil apa pun bisa menentukan hasil pemulihan pasien.” ucapnya.

Kemudian, di OCM Munich bersama Prof. Robert Hube, Glen mempelajari muscle-sparing Total Hip Replacement (THR)—teknik inovatif tanpa pemotongan otot. Di bawah bimbingan ahli dunia itu, Glen ikut menangani puluhan operasi tiap minggu, hingga menguasai langkah-langkah presisi yang kini ia terapkan di Surabaya.

Perjalanan belum berhenti. Di CHU Toulouse, Prancis, Glen mendalami Biologic ACL Reconstruction dari Prof. Etienne Cavaignac. Fokusnya: memulihkan lutut atlet agar bisa kembali ke lapangan lebih cepat dan aman. Tahun ini, ia juga dijadwalkan menuntaskan Orthoregeneration Fellowship di Poznań, Polandia, mempelajari terapi regeneratif terkini untuk sendi lutut.

Setiap fellowship meninggalkan bekas: bukan hanya sertifikat, tapi keterampilan dan kepekaan klinis. “Saya belajar bahwa pasien di mana pun punya harapan yang sama—ingin sembuh cepat dan kembali aktif,” ujar Glen.

Sepulang ke Indonesia, dia membawa semangat itu ke ruang operasi National Hospital Surabaya. Bersama tim ortopedi, Glen menerapkan konsep ERAS (Enhanced Recovery After Surgery) yang memungkinkan pasien cepat berjalan, cepat pulang, dan cepat kembali beraktivitas tanpa bergantung pada teknologi robotik yang mahal.

Metode ini kini menjadi standar baru dalam operasi lutut dan pinggul di rumah sakit tersebut. Hasilnya, banyak pasien pulih hanya dalam hitungan hari sebuah perubahan paradigma dari bedah konvensional menuju pendekatan modern dan manusiawi.

Selain aktif sebagai dokter, Glen juga menjadi reviewer jurnal internasional dan kontributor riset ortopedi global. Baginya, meneliti dan menulis adalah bagian dari tanggung jawab profesi. “Medisin tidak pernah berhenti. Begitu kita berhenti belajar, kita tertinggal,” ujarnya.

Filosofi itu kini melekat pada setiap langkahnya di ruang bedah. Dari ratusan operasi di luar negeri hingga pasien-pasien di Surabaya, dr. Glen Purnomo terus membuktikan satu hal. Yakni, belajar dari dunia untuk membuat langkah pasien Indonesia terasa lebih ringan dengan metode modern.

Tim Dokter - Bawa Inovasi Operasi dari Dunia ke Indonesia!