Cegah Low Back Pain: Kebiasaan Sederhana untuk Menjaga Kesehatan Punggung

Low back pain atau nyeri punggung bawah sering kali dianggap sebagai keluhan biasa yang akan hilang dengan sendirinya. Padahal, kebiasaan sehari-hari dapat berperan dalam meningkatkan risiko terjadinya nyeri punggung bawah. Kabar baiknya, tidak semua faktor risiko berada di luar kendali kita.

Ada berbagai kebiasaan yang dapat diperbaiki untuk membantu menjaga kesehatan punggung. Dalam podcast National Hospital, dokter Spesialis Saraf, dr. Andreas Soejitno, Sp.N, CIPS, FIPP, menjelaskan bahwa langkah pencegahan sebaiknya dimulai dengan mengenali faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko low back pain. Berikut penjelasannya!

1. Usia Bertambah, Risiko Juga Meningkat

Usia merupakan salah satu faktor yang tidak dapat dikendalikan. Seiring bertambahnya usia, berbagai organ dan jaringan tubuh juga mengalami proses penuaan. Kondisi tersebut secara alami dapat meningkatkan risiko munculnya berbagai masalah pada tubuh, termasuk nyeri punggung bawah.

Seseorang memang dapat menjaga kesehatan dan memperlambat berbagai dampak dari proses penuaan secara biologis melalui pola hidup sehat. Namun, usia kronologis tetap akan berjalan. Karena itu, menjaga kesehatan punggung sebaiknya tidak baru dilakukan ketika memasuki usia lanjut. Kebiasaan baik justru perlu dibangun mulai dari sekarang.

2. Jangan Sepelekan Posisi Duduk

Salah satu faktor yang lebih mudah dikendalikan adalah gaya hidup dan kebiasaan sehari-hari, termasuk cara kita duduk. Duduk dalam posisi yang kurang baik dapat memberikan pengaruh terhadap kesehatan punggung, terlebih jika dilakukan berulang-ulang dalam waktu yang lama.

Bagi pekerja kantoran, aktivitas duduk menjadi bagian terbesar dari rutinitas kerja. Bayangkan berapa jam yang dihabiskan pekerja kantoran untuk duduk dalam satu hari. Artinya, bukan hanya posisi duduk yang perlu diperhatikan, tetapi juga berapa lama duduk tanpa mengubah posisi atau bergerak.

3. Duduk Tegak Belum Cukup

Menjaga posisi duduk yang baik tentu penting. Namun, duduk dengan postur yang baik sekalipun dalam durasi yang terlalu lama tetap dapat menjadi faktor risiko. Karena itu, tubuh membutuhkan perubahan posisi dan pergerakan. Usahakan untuk tidak terus-menerus berada dalam posisi duduk. Berikan kesempatan bagi tubuh untuk berdiri, berjalan, atau melakukan aktivitas ringan di sela-sela pekerjaan.

4. Sitting Is the New Smoking

Istilah "sitting is the new smoking" digunakan untuk menggambarkan perhatian yang semakin besar terhadap dampak gaya hidup sedentari atau terlalu banyak duduk dan kurang bergerak. Bukan berarti duduk secara harfiah memiliki dampak yang sama dengan merokok dalam segala aspek kesehatan.

Namun, pesan penting di balik istilah tersebut adalah bahwa terlalu banyak duduk dan kurang bergerak merupakan kebiasaan yang perlu diwaspadai. Hal ini menjadi semakin relevan bagi orang yang bekerja berjam-jam di depan komputer. Untuk pencegahannya, kini muncul salah satu tren tentang penggunaan standing desk.

Di mana, banyak perkantoran yang mulai menggunakan meja dengan hidrolik atau adjustable desk yakni meja yang dapat diatur ketinggiannya, sehingga seseorang dapat berganti posisi dari duduk ke berdiri selama bekerja. Tujuannya bukan berarti harus berdiri sepanjang waktu, melainkan memberikan kesempatan bagi tubuh untuk mengubah posisi secara berkala.

5. Perubahan Posisi Penting untuk Bantalan Tulang Belakang

Di antara tulang belakang terdapat struktur yang disebut diskus intervertebralis, yang sering dianalogikan sebagai bantalan. Menurut dr. Andreas, bantalan tersebut mendapatkan nutrisi melalui adanya perubahan tekanan. Perubahan tekanan ini dapat terjadi ketika kita mengubah posisi tubuh, misalnya dari duduk menjadi berdiri atau berjalan.

Karena itu, membiasakan diri untuk bergerak dan berganti posisi dapat menjadi salah satu kebiasaan sederhana untuk membantu menjaga kesehatan punggung. Pesannya sederhana: jangan biarkan tubuh berada dalam satu posisi terlalu lama.

6. Rokok Bisa Meningkatkan Risiko

Faktor gaya hidup lain yang perlu diperhatikan adalah merokok. Kandungan nikotin dalam rokok dapat menghambat aliran darah menuju diskus intervertebralis atau bantalan di antara tulang belakang. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya nyeri punggung bawah di kemudian hari.

Jadi, berhenti merokok bukan hanya bermanfaat bagi kesehatan paru-paru dan jantung saja, tetapi juga merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan tulang belakang.

7. Lakukan Aktivitas Fisik

Kurangnya aktivitas fisik atau yang juga dikenal dengan istilah sedentary lifestyle juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Kurang bergerak bukan hanya berarti tidak pernah berolahraga. Pola hidup yang membuat kita terlalu pasif sepanjang hari juga berperan. Misalnya:

  1. Terlalu sering menggunakan kendaraan untuk jarak yang sebenarnya dapat ditempuh dengan berjalan kaki
  2. Selalu menggunakan lift atau eskalator ketika tangga dapat digunakan dengan aman
  3. Terlalu lama duduk tanpa diselingi aktivitas
  4. Menghabiskan sebagian besar waktu luang dalam posisi duduk atau berbaring

Kebiasaan-kebiasaan tersebut membuat tubuh semakin sedikit bergerak. Karena itu, menjaga kesehatan punggung tidak selalu harus dimulai dengan olahraga berat. Meningkatkan aktivitas dan mobilitas sehari-hari juga penting.

8. Konsumsi Suplemen

Pada kelompok usia yang lebih lanjut, faktor lain yang perlu diperhatikan adalah osteoporosis. Di mana, osteoporosis menyebabkan tulang menjadi lebih rapuh sehingga kesehatan tulang perlu mendapat perhatian, terutama seiring bertambahnya usia.

Dalam podcast tersebut, dr. Andreas juga menekankan pentingnya vitamin D dan kalsium dalam konteks menjaga kesehatan tulang. Namun, kebutuhan suplementasi sebaiknya disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu dan tidak dilakukan secara sembarangan.

Kesimpulan

Mencegah low back pain tidak selalu membutuhkan langkah yang rumit. Sering kali, pencegahan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti tidak terlalu lama berada dalam satu posisi, tetap aktif bergerak, melakukan stretching atau latihan untuk menjaga kelenturan otot, menjaga kebugaran tubuh, serta menghindari kebiasaan yang dapat meningkatkan risiko, seperti merokok.

Kita mungkin tidak dapat menghentikan proses penuaan, tetapi masih banyak hal yang dapat kita lakukan untuk menjaga kesehatan tubuh setiap hari. Bagi Anda yang menghabiskan banyak waktu untuk duduk bekerja, jangan hanya ingat untuk menyelesaikan pekerjaan, ingat juga untuk memberikan tubuh kesempatan bergerak dan beristirahat dari posisi duduk.

Menjaga kesehatan punggung bukan hanya tentang mengatasi nyeri ketika sudah muncul, tetapi juga tentang membangun kebiasaan sehat sebelum masalah datang. Pencegahan penting, tetapi mengenali gejala dan mengetahui kapan harus mencari pertolongan medis juga tidak kalah penting. Jika nyeri punggung bawah menetap, berulang, atau tidak kunjung benar-benar hilang, sebaiknya lakukan evaluasi medis untuk mengetahui penyebabnya dan mendapatkan penanganan yang sesuai.

National Hospital hadir dengan dukungan dokter spesialis, tim multidisiplin, serta fasilitas dan modalitas penanganan yang dapat membantu mengevaluasi penyebab nyeri punggung bawah dan menentukan terapi sesuai kondisi setiap pasien. Karena punggung yang sehat membantu kita tetap aktif dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan optimal, jangan abaikan nyeri yang menetap atau berulang. Konsultasikan keluhan Anda dengan dokter di National Hospital untuk mendapatkan evaluasi dan penanganan yang tepat.

Tim Dokter - Cegah Low Back Pain: Kebiasaan Sederhana untuk Menjaga Kesehatan Punggung