Disfungsi ereksi merupakan salah satu masalah kesehatan seksual yang dapat dialami pria. Kondisi ini bukan sekadar persoalan "tidak bisa ereksi", tetapi berkaitan dengan kemampuan mencapai dan mempertahankan ereksi yang cukup untuk melakukan aktivitas seksual.
Dalam podcast National Hospital, dr. Pety Narulita, Sp.And, Subsp. F.E.R, Dokter Spesialis Andrology dan Sexual Infertility National Hospital, menjelaskan beberapa hal penting mengenai disfungsi ereksi yang perlu diketahui pria dan pasangannya. Berikut penjelasannya!
Disfungsi ereksi adalah ketidakmampuan mencapai dan mempertahankan ereksi pada pria. Namun tidak setiap kejadian gagal ereksi langsung dikategorikan sebagai disfungsi ereksi. Jika baru terjadi sesekali, kondisi tersebut belum tentu merupakan disfungsi ereksi.
Dikatakan disfungsi ereksi jika keluhan yang menetap atau berulang selama kurang lebih 3 bulan. Kondisi ini perlu mendapatkan perhatian dan evaluasi lebih lanjut.
Secara umum, penyebab disfungsi ereksi dapat dibagi menjadi dua kelompok besar, diantaranya:
Faktor psikologis dapat memengaruhi kemampuan pria untuk mendapatkan dan mempertahankan ereksi. Beberapa kondisi yang dapat berpengaruh antara lain:
Penting: fungsi seksual tidak hanya dipengaruhi oleh organ reproduksi. Otak dan kondisi psikologis juga memiliki peran besar. Ketika pikiran tidak benar-benar rileks, respons seksual juga dapat terganggu.
Disfungsi ereksi juga dapat berkaitan dengan kondisi medis tertentu, seperti:
Karena itu, disfungsi ereksi tidak seharusnya dianggap hanya sebagai masalah seksual. Pada sebagian pria, kondisi ini dapat berkaitan dengan kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Menurut dr. Pety, kegagalan ereksi sesekali dapat terjadi pada pria. Maka dari itu, tidak perlu langsung merasa panik. Hal yang perlu dipahami, tidak setiap hubungan seksual harus selalu berhasil. Pria dapat mengalami kegagalan ereksi pada fase tertentu dalam hidupnya.
Satu kali gagal ereksi tidak otomatis berarti mengalami disfungsi ereksi. Yang perlu diperhatikan adalah apakah kondisi tersebut terus berulang dan berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Masalah dapat muncul ketika pengalaman gagal tersebut menimbulkan ketakutan akan kegagalan berikutnya.
Dukungan pasangan dapat membantu mengurangi tekanan psikologis. Yang dapat dilakukan pasangan:
Dr. Pety juga menjelaskan bahwa couple therapy dapat menjadi salah satu pendekatan pada pasien dengan disfungsi ereksi sehingga pasangan dapat ikut memahami dan menghadapi masalah tersebut.
Kehidupan seksual pasangan melibatkan berbagai aspek, antara lain:
Karena itu, ketika mengalami masalah seksual, jangan hanya berfokus pada organ reproduksi. Faktor psikologis dan hubungan dengan pasangan juga perlu diperhatikan.
Pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan dokter apabila:
Dokter dapat membantu mengevaluasi apakah keluhan berkaitan dengan faktor psikologis, kondisi medis, atau kombinasi keduanya.
Disfungsi ereksi dapat dipengaruhi faktor psikologis maupun kondisi medis. Disfungsi ereksi bukanlah kondisi yang perlu ditutupi atau dianggap sebagai kegagalan seorang pria. Dengan evaluasi yang tepat, penyebabnya dapat diketahui sehingga penanganan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.
National Hospital hadir dengan dukungan dokter spesialis Andrologi dan Sexual Infertility untuk membantu pria yang mengalami gangguan ereksi mendapatkan evaluasi dan penanganan secara menyeluruh. Pemeriksaan dapat membantu mengidentifikasi faktor yang mendasari, baik yang berkaitan dengan kondisi fisik maupun psikologis.
Jangan biarkan rasa malu atau kekhawatiran menghalangi Anda untuk mendapatkan pertolongan. Jika mengalami gangguan ereksi yang menetap atau berulang, konsultasikan kondisi Anda dengan dokter di National Hospital untuk mendapatkan evaluasi dan penanganan yang tepat.