Gangguan psikiatri seperti depresi dan obsessive-compulsive disorder (OCD) dapat berdampak besar pada kualitas hidup. Sebagian pasien dapat mengalami kondisi yang sulit ditangani meskipun telah menjalani berbagai terapi, seperti obat-obatan, psikoterapi, maupun terapi non-bedah. Dalam kondisi tertentu, psychosurgery dapat menjadi salah satu pilihan yang dipertimbangkan.
Dengan perkembangan teknologi medis, psychosurgery modern kini dilakukan menggunakan teknik yang lebih terarah dan presisi untuk memengaruhi jaringan atau sirkuit otak yang berkaitan dengan gejala penyakit. Lantas, apa itu psychosurgery, kapan diperlukan, dan bagaimana prosedurnya? Berikut penjelasannya.
Psychosurgery merupakan tindakan bedah saraf yang bertujuan memodulasi aktivitas jaringan atau sirkuit otak tertentu yang berkaitan dengan gejala gangguan psikiatri. Berbeda dengan lobotomi yang pernah dilakukan pada masa lalu, psychosurgery modern menggunakan pendekatan yang jauh lebih terarah dan presisi.
Prosedur ini umumnya dilakukan dengan teknik stereotaktik, sehingga dokter dapat menentukan target tertentu di dalam otak dengan bantuan pencitraan dan teknologi navigasi. Pendekatan psychosurgery dapat berupa neuromodulasi, seperti stimulasi otak, maupun ablasi atau lesioning pada area otak tertentu. Pemilihan metode bergantung pada kondisi pasien, diagnosis, target terapi, serta hasil evaluasi tim medis.
Dengan perkembangan ilmu saraf dan teknologi medis, psychosurgery modern berfokus pada jaringan atau sirkuit otak yang berkaitan dengan gejala penyakit, bukan melakukan kerusakan pada area otak secara luas seperti pada prosedur di masa lalu. Karena itu, psychosurgery modern merupakan bagian dari bedah saraf fungsional yang dilakukan secara terarah dan sangat selektif pada pasien tertentu.
Psychosurgery tidak diberikan hanya karena seseorang mengalami gangguan psikiatri. Biasanya, tindakan baru dipertimbangkan apabila:
Karena proses evaluasinya kompleks, keputusan untuk melakukan psychosurgery dapat membutuhkan waktu beberapa minggu hingga beberapa bulan.
Major depressive disorder atau gangguan depresi mayor dapat menyebabkan:
Pada sebagian kecil pasien, depresi dapat menjadi kondisi yang sangat sulit ditangani meskipun telah mendapatkan berbagai terapi. Dalam kondisi tertentu, pendekatan neuromodulasi seperti vagus nerve stimulation (VNS) dapat dipertimbangkan.
Di Amerika Serikat, FDA memiliki indikasi khusus untuk penggunaan VNS pada pasien dewasa dengan depresi kronis atau berulang yang memenuhi kriteria tertentu dan tidak memberikan respons yang memadai terhadap beberapa terapi antidepresan.
OCD merupakan gangguan yang ditandai dengan:
Contohnya, seseorang merasa sangat takut terhadap kuman sehingga mencuci tangan berkali-kali meskipun tangannya sudah bersih.
Pada OCD yang berat dan sulit ditangani, deep brain stimulation (DBS) dapat menjadi salah satu pilihan pada pasien yang memenuhi kriteria tertentu. FDA memiliki Humanitarian Device Exemption untuk sistem DBS tertentu pada OCD kronis dan berat yang sulit ditangani.
Perilaku agresif berat dapat muncul pada beberapa kondisi psikiatri atau neurologis. Contohnya:
Pendekatan bedah saraf untuk kondisi seperti ini masih sangat selektif dan terus dikembangkan. Karena itu, tindakan tidak dapat dilakukan pada setiap pasien dan membutuhkan evaluasi yang sangat ketat.
Psychosurgery juga mulai diteliti untuk kondisi adiksi, seperti kecanduan alkohol, kecanduan obat-obatan, ataupun kecanduan judi. Pendekatan ini didasarkan pada pemahaman bahwa adiksi berkaitan dengan jaringan otak yang mengatur reward, motivasi, kontrol impuls, dan pengambilan keputusan.
Namun, psychosurgery untuk adiksi masih dalam tahap penelitian pada banyak konteks dan belum menjadi terapi rutin untuk semua pasien.
Psychosurgery tidak dilakukan hanya berdasarkan permintaan pasien atau keluarga. Karena gangguan psikiatri merupakan kondisi yang kompleks, keputusan untuk melakukan tindakan ini harus melalui evaluasi multidisiplin yang melibatkan psikiater, dokter bedah saraf fungsional, serta tenaga kesehatan lain sesuai kebutuhan.
Psikiater akan menilai diagnosis, tingkat keparahan penyakit, riwayat pengobatan, serta respons terhadap terapi yang telah diberikan. Sementara itu, dokter bedah saraf fungsional akan menilai kemungkinan tindakan, target dan teknik yang sesuai, serta manfaat dan risikonya.
Tim juga akan mengevaluasi terapi yang telah dijalani, seperti obat-obatan, psikoterapi, maupun terapi non-bedah seperti ECT atau TMS sesuai indikasi. Jika berbagai terapi tersebut telah diberikan secara optimal namun gejala tetap berat atau sulit dikendalikan, psychosurgery dapat dipertimbangkan.
Proses evaluasi ini memastikan pasien memenuhi kriteria tindakan dan memahami manfaat, risiko, serta kebutuhan pemantauan setelah prosedur. Setelah tindakan, pasien tetap memerlukan pemantauan untuk menilai respons terapi dan, pada prosedur neuromodulasi tertentu, menyesuaikan stimulasi sesuai kebutuhan.
Tindakan Psychosurgery tidak seperti yang banyak dibayangkan, di mana tengkorak tidak harus dibuka lebar. Psychosurgery modern umumnya menggunakan teknik stereotaktik dengan akses yang jauh lebih kecil dan target yang sangat spesifik. Ada dua pendekatan utama dalam psychosurgery:
Pada metode ini, perangkat khusus digunakan untuk memengaruhi aktivitas jaringan otak. Salah satu contohnya adalah Deep Brain Stimulation (DBS) yang prosedurnya berupa:
Metode lainnya adalah Vagus Nerve Stimulation (VNS), yaitu pemberian stimulasi melalui saraf vagus menggunakan perangkat yang ditanam di dalam tubuh.
Berbeda dengan neuromodulasi, metode ini bertujuan membuat perubahan atau lesi yang sangat terarah pada area otak tertentu. Prosedurnya dilakukan dengan bantuan sistem stereotaktik untuk menentukan target secara presisi.
Teknik ablasi dapat menggunakan teknologi tertentu sesuai kondisi pasien, target otak, dan fasilitas yang tersedia. Keunggulan pendekatan stereotaktik adalah dokter dapat menargetkan area yang sangat spesifik tanpa melakukan operasi dengan pembukaan tengkorak secara luas.
Psychosurgery bukanlah lobotomi dan bukan pilihan terapi pertama untuk gangguan psikiatri. Tindakan ini merupakan bagian dari bedah saraf fungsional modern yang menggunakan teknologi stereotaktik, pencitraan otak, neuromodulasi, atau ablasi untuk menargetkan jaringan otak tertentu secara lebih presisi.
Psychosurgery hanya dipertimbangkan pada pasien tertentu dengan gangguan yang sulit ditangani setelah berbagai terapi standar telah dievaluasi dan diberikan secara optimal. Tujuannya bukan untuk mengubah kepribadian, melainkan membantu mengendalikan gejala penyakit melalui intervensi pada jaringan atau sirkuit otak yang terkait.
Karena merupakan tindakan yang kompleks, psychosurgery membutuhkan evaluasi dan kolaborasi tim multidisiplin, terutama psikiater dan dokter bedah saraf fungsional, dengan melibatkan tenaga medis lain sesuai kebutuhan pasien.
National Hospital didukung oleh teknologi medis modern, fasilitas penunjang, serta dokter spesialis dan tenaga medis berpengalaman untuk membantu melakukan evaluasi secara menyeluruh dan menentukan pilihan penanganan yang sesuai. Setiap tindakan dipertimbangkan secara individual berdasarkan diagnosis, tingkat keparahan, riwayat terapi, respons terhadap pengobatan, serta manfaat dan risiko bagi pasien.