Peran orang tua dalam menyikapi perkembangan zaman dan teknologi sangat penting. Termasuk untuk tumbuh kembang anak di masa depan. Dr. Achmad Y. Heryana, SpA, dan dr. Putri Anya Universade, Sp.M, M.Ked.Klin dari National Hospital Surabaya membagikan beberapa hal yang harus diperhatikan untuk memastikan tumbuh kembang dan kesehatan mata anak tidak terganggu.
Setiap anak memang punya keunikan masing-masing. Namun, orang tua dapat melihat dan menilai perkembangan mereka berdasar pada pola umum. Baik pertumbuhan maupun perkembangan anak. Di tengah gempuran gadget belakangan ini, sangat penting bagi setiap orang tua untuk memastikan anak bertumbuh dan berkembang sesuai usia.
"Penggunaan gadget saat ini tidak dapat dihindari, tetapi perlu diatur dengan bijak," ucap Dokter Achmad dalam kegiatan Fun Day di National Hospital Surabaya pada Minggu, 31 Mei 2026.
Merujuk pada panduan American Academy of Pediatrics (AAP) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), pengaturan screen time tidak melulu soal hitungan menit, melainkan juga kualitas konten, konteks penggunaan, pendampingan orang tua, serta dampaknya terhadap tidur, aktivitas fisik, sekolah, dan relasi keluarga. Secara teknis, ada beberapa anjuran yang disampaikan oleh Dokter Achmad.
Anak usia 18 bulan ke bawah disarankan untuk menghindari screen media, kecuali video call. Anak usia 18-24 bulan sudah bisa dikenalkan pada konten yang berkualitas namun harus tetap dalam pendampingan orang tua. Anak usia 2-5 tahun dibatasi mengakses konten berkualitas maksimal 1 jam per hari. Sementara anak usia 6 tahun ke atas mulai diarahkan untuk fokus.
"Layar tidak boleh mengganggu tidur, sekolah, aktivitas fisik, dan hubungan keluarga. Gunakan family media plan," kata Dokter Achmad.
Perlu diingat pula, isu kesehatan mental tidak boleh dikesampingkan oleh orang tua. Anak yang kurang tidur, terlalu banyak layar, jarang bergerak, pola makan kurang baik, dan kurang interaksi berkualitas dengan keluarga lebih mudah mengalami masalah emosi maupun perilaku. Untuk itu, ada beberapa tanda yang perlu diperhatikan:
"Antara lain perubahan mood yang menetap, anak tampak menarik diri, mudah marah, sulit fokus, tampak sangat tergantung pada gadget, atau kehilangan minat pada aktivitas yang sebelumnya disukai. Tanda-tanda ini tidak selalu berarti gangguan berat, tetapi layak menjadi sinyal bagi keluarga untuk mengevaluasi rutinitas dan, bila perlu, mencari bantuan profesional," jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Dokter Putri Anya Universade menyampaikan bahwa isu kesehatan mata anak tidak boleh diabaikan oleh orang tua. Data-data dari WHO pada 2023 menunjukkan sebanyak 12 juta anak Indonesia mengalami gangguan penglihatan. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) juga mencatat terjadinya peningkatan kasus miopia.
Potensi gangguan kesehatan mata tersebut dapat dicegah dengan langkah yang tepat. Termasuk diantaranya dengan memperhatikan perkembangan penglihatan mata anak sejak dini, utamanya pada rentang usia atau fase kritis 2-5 tahun. Dokter Putri mengingatkan bahwa fase tersebut akan sangat menentukan masa depan anak.
"Periode emas ini tidak dapat diulang, deteksi dini adalah investasi terbaik untuk masa depan penglihatan anak," ucap dia.
Selain itu, Dokter Putri mengingatkan bahwa screen time berlebihan akan berdampak bagi kesehatan mata anak. Salah satu yang paling berbahaya adalah miopia atau rabun jauh. Risikonya meningkat 2-3 kali lipat apabila screen time anak di atas 3 jam per hari. Dampak atau risiko lainnya adalah anak mengalami mata lelah, menyebabkan gangguan tidur, dan menghambat pematangan visual.
"Tanda-tanda masalah penglihatan anak juga harus diwaspadai. Misalnya menyipitkan mata saat melihat TV atau buku, memiringkan kepala atau menutup satu mata saat melihat. Sering menggosok mata atau berkedip berlebihan dan mengeluh sakit kepala saat membaca," ujarnya.
Di era digital, pengasuhan anak memang menantang. Namun, tantangan itu dapat dijawab dengan pemantauan tepat. Orang tua harus membangun kebiasaan sehat sejak dini, mendorong pola hidup yang seimbang, melakukan komunikasi dengan baik, dan bersedia mencari pertolongan saat dibutuhkan. Sehingga orang tua bisa membantu anak bertumbuh dan berkembang dengan baik.