Gangguan gerak akibat penyakit neurologi, seperti tremor, kekakuan otot (rigiditas), dan gerakan yang melambat (bradikinesia), dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Pada pasien tertentu, salah satu terapi untuk membantu mengendalikan gejalanya adalah Deep Brain Stimulation (DBS) yakni pemberian stimulasi listrik pada area tertentu di otak.
Seiring berkembangnya teknologi medis, terapi DBS terus mengalami inovasi. National Hospital melalui National Hospital Neuroscience Center (NHNC) bekerja sama dengan Medtronic kini menghadirkan Adaptive Deep Brain Stimulation (Adaptive DBS/aDBS) pertama di Indonesia, sebuah teknologi generasi terbaru yang menawarkan pendekatan terapi yang lebih personal dan responsif terhadap kondisi pasien.
Berbeda dengan DBS konvensional yang memberikan stimulasi berdasarkan parameter yang telah diprogram oleh dokter, Adaptive DBS menggunakan teknologi closed-loop stimulation yang memungkinkan perangkat mendeteksi aktivitas listrik otak pasien secara real-time melalui teknologi BrainSense. Berdasarkan informasi tersebut, sistem dapat menyesuaikan intensitas stimulasi secara otomatis sesuai kebutuhan pasien, namun tetap berada dalam batas parameter yang telah ditetapkan oleh dokter.
Pendekatan ini dikembangkan karena setiap pasien memiliki pola gejala yang berbeda, bahkan dapat berubah sepanjang hari. Dengan kemampuan menyesuaikan terapi secara real-time, Adaptive DBS diharapkan mampu memberikan pengendalian gejala yang lebih optimal sekaligus mengurangi stimulasi yang tidak diperlukan. Hal ini berpotensi meningkatkan kenyamanan pasien dalam menjalani aktivitas sehari-hari serta mendukung terapi yang lebih sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu.
Teknologi Adaptive DBS bekerja dengan prinsip closed-loop stimulation, di mana elektroda yang ditanam pada area tertentu di otak tidak hanya berfungsi memberikan stimulasi listrik, tetapi juga merekam aktivitas listrik otak yang berkaitan dengan gejala penyakit. Sinyal tersebut kemudian dianalisis oleh sistem untuk menentukan apakah pasien memerlukan stimulasi yang lebih tinggi atau lebih rendah. Berdasarkan hasil analisis tersebut, perangkat secara otomatis menyesuaikan stimulasi secara real-time sesuai pengaturan yang telah diprogram oleh dokter.
Dibandingkan dengan Continuous DBS (cDBS), Adaptive DBS menawarkan terapi yang lebih dinamis dengan potensi meningkatkan kontrol gejala motorik, seperti tremor, rigiditas, dan bradikinesia. Selain itu, kemampuan menyesuaikan stimulasi sesuai aktivitas otak pasien juga berpotensi mengurangi stimulasi yang tidak diperlukan, sehingga dapat membantu meminimalkan efek samping akibat stimulasi berlebih sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan baterai perangkat.
Meskipun perangkat mampu melakukan penyesuaian stimulasi secara otomatis, peran dokter tetap menjadi bagian utama dalam keseluruhan terapi. Dokter menentukan target terapi, area stimulasi, parameter keamanan, serta batas penyesuaian stimulasi, sementara sistem melakukan adaptasi secara otomatis dalam rentang yang telah ditetapkan. Dengan demikian, teknologi ini tidak menggantikan peran dokter, melainkan menjadi alat yang mendukung pemberian terapi yang lebih presisi.
Melalui peluncuran Adaptive DBS pertama di Indonesia, National Hospital bersama National Hospital Neuroscience Center dan Medtronic menegaskan komitmennya dalam menghadirkan inovasi layanan neurologi berbasis teknologi terkini. Kehadiran teknologi ini diharapkan dapat memperluas akses masyarakat Indonesia terhadap terapi neuromodulasi modern, sekaligus membuka era baru penanganan gangguan gerak yang lebih personal, presisi, dan berorientasi pada peningkatan kualitas hidup pasien.
Baca artikel selengkapnya di sini:
National Hospital Surabaya Terapkan Adaptive DBS Berbasis AI untuk Parkinson
Pertama di Indonesia, National Hospital Surabaya Terapkan Adaptive DBS Berbasis AI untuk Parkinson
Stabilkan Pasien Parkinson, National Hospital Luncurkan Metode Adaptive DBS AI