Stroke memang lebih sering terjadi pada usia lanjut. Namun, terdapat penyakit langka yang dapat menyebabkan stroke pada anak-anak maupun orang dewasa muda, yaitu penyakit moyamoya. Penyakit ini menyebabkan penyempitan pembuluh darah utama di otak sehingga aliran darah ke jaringan otak berkurang. Pada tahap awal, gejalanya sering kali tidak disadari sehingga diagnosis baru ditegakkan setelah terjadi stroke atau gangguan saraf lainnya.
Meskipun tergolong jarang, penyakit moyamoya perlu dikenali sejak dini karena dapat meningkatkan risiko stroke, gangguan fungsi otak, hingga penurunan kualitas hidup apabila tidak ditangani dengan tepat.
Penyakit moyamoya adalah kelainan pembuluh darah otak yang ditandai dengan penyempitan progresif pada arteri karotis interna beserta cabang-cabang utamanya di dasar otak. Penyempitan ini menyebabkan aliran darah menuju otak berkurang sehingga jaringan otak tidak mendapatkan suplai oksigen dan nutrisi yang cukup.
Sebagai respons, tubuh membentuk jaringan pembuluh darah kecil sebagai jalur alternatif (kolateral) untuk mempertahankan aliran darah ke otak. Namun, pembuluh darah kolateral ini berukuran kecil dan rapuh sehingga tidak mampu menggantikan fungsi pembuluh darah utama secara optimal. Bahkan, pembuluh darah tersebut berisiko pecah dan menyebabkan perdarahan otak.
Pada pemeriksaan Digital Subtraction Angiography (DSA), kumpulan pembuluh darah kecil ini tampak menyerupai kepulan asap. Dalam bahasa Jepang, “moyamoya” berarti kepulan asap, sehingga penyakit ini dinamai berdasarkan gambaran khas tersebut.
Penyakit moyamoya dapat menyerang satu sisi maupun kedua sisi otak. Namun, pada sebagian besar pasien, penyempitan akan berkembang menjadi mengenai kedua sisi seiring berjalannya waktu apabila tidak ditangani.
Gejala penyakit moyamoya dapat berbeda pada setiap orang, tergantung usia serta tingkat penyempitan pembuluh darah yang terjadi. Gejala muncul akibat berkurangnya aliran darah ke otak atau akibat pecahnya pembuluh darah kolateral yang rapuh.
Pada anak-anak, penyakit ini paling sering menyebabkan Transient Ischemic Attack (TIA) atau stroke iskemik. Sementara pada orang dewasa, selain stroke iskemik, perdarahan otak juga lebih sering ditemukan. Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain:
Pada sebagian pasien, gejala dapat dipicu oleh aktivitas fisik berat, menangis, demam, batuk, atau hiperventilasi karena kondisi tersebut dapat semakin mengurangi aliran darah ke otak.
Hingga saat ini, penyebab pasti penyakit moyamoya masih belum diketahui. Namun, beberapa faktor diketahui berkaitan dengan meningkatnya risiko terjadinya penyakit ini.
Faktor genetik memiliki peran penting dalam terjadinya penyakit moyamoya. Salah satu gen yang paling sering dikaitkan dengan penyakit ini adalah RNF213, terutama pada populasi Asia Timur. Meskipun demikian, tidak semua orang yang memiliki varian gen tersebut akan mengalami moyamoya. Risiko seseorang juga meningkat apabila memiliki anggota keluarga, terutama orang tua atau saudara kandung, yang menderita penyakit moyamoya.
Penyakit moyamoya paling sering ditemukan pada dua kelompok usia, yaitu anak-anak berusia 5–10 tahun dan orang dewasa berusia 35–50 tahun. Pada anak-anak, penyakit ini umumnya muncul sebagai stroke iskemik atau TIA. Sementara pada orang dewasa, gejala dapat berupa stroke iskemik, perdarahan otak, atau sakit kepala kronis.
Beberapa kelainan genetik diketahui meningkatkan risiko terjadinya moyamoya, seperti:
Kondisi tersebut dapat memengaruhi perkembangan dan struktur pembuluh darah sehingga meningkatkan kerentanan terhadap penyempitan pembuluh darah otak.
Selain Moyamoya disease, terdapat kondisi yang disebut Moyamoya syndrome, yaitu penyempitan pembuluh darah yang menyerupai moyamoya tetapi terjadi akibat penyakit lain. Beberapa kondisi yang dapat berhubungan dengan Moyamoya syndrome antara lain:
Peran faktor lingkungan masih terus diteliti. Hingga saat ini belum ada faktor lingkungan yang terbukti secara pasti menyebabkan penyakit moyamoya. Namun, diduga terdapat interaksi antara faktor genetik dan lingkungan yang memengaruhi perkembangan penyakit ini.
Diagnosis moyamoya dilakukan melalui kombinasi wawancara medis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan neurologis, serta pemeriksaan pencitraan otak. Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan meliputi:
Diagnosis yang tepat sangat penting agar penanganan dapat dilakukan sebelum terjadi stroke berulang.
Tujuan pengobatan adalah mengurangi risiko stroke, mempertahankan fungsi otak, serta meningkatkan kualitas hidup pasien.
Dokter dapat memberikan obat sesuai kondisi pasien, antara lain:
Perlu diketahui bahwa obat-obatan tidak dapat menghilangkan penyempitan pembuluh darah, tetapi membantu mengurangi risiko komplikasi.
Operasi merupakan terapi utama pada sebagian besar pasien moyamoya. Tujuan tindakan ini adalah membentuk jalur baru agar aliran darah menuju otak menjadi lebih baik. Beberapa teknik operasi yang umum dilakukan meliputi:
Pada beberapa pasien, kedua teknik tersebut dapat dikombinasikan untuk memperoleh hasil yang optimal. Pemilihan jenis operasi akan disesuaikan dengan usia pasien, kondisi pembuluh darah, hasil pemeriksaan pencitraan, serta pertimbangan dokter bedah saraf.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa operasi revaskularisasi dapat menurunkan risiko stroke berulang sekaligus meningkatkan kualitas hidup pasien dalam jangka panjang.
Penyakit moyamoya merupakan kelainan pembuluh darah otak yang dapat menyebabkan stroke pada anak maupun orang dewasa. Meskipun tergolong langka, penyakit ini bersifat progresif sehingga diagnosis dan penanganan sedini mungkin sangat penting untuk mencegah stroke berulang, kerusakan otak permanen, dan penurunan kualitas hidup.
Jangan abaikan gejala seperti kelemahan mendadak pada salah satu sisi tubuh, gangguan bicara, kejang, atau sakit kepala yang berulang, terutama bila terjadi pada anak atau orang dewasa muda. Semakin cepat penyakit moyamoya dikenali, semakin besar peluang untuk mempertahankan fungsi otak dan mencegah komplikasi yang lebih berat.
National Hospital Neuroscience Center didukung oleh tim dokter spesialis saraf dan dokter bedah saraf yang berpengalaman, serta fasilitas diagnostik modern seperti MRI, CT Scan, dan Digital Subtraction Angiography (DSA) untuk membantu menegakkan diagnosis secara akurat serta menentukan penanganan yang paling sesuai bagi setiap pasien.