Pertama di Indonesia Timur, National Hospital Hadirkan Teknologi Neurosurgery Ultra High Precision 0.1 Milimeter dan Terintegrasi dari MRI hingga CT Scan

National Hospital menghadirkan integrasi teknologi neurosurgery berpresisi tinggi sebagai bagian dari komitmen dalam mengembangkan layanan bedah saraf modern. Kehadiran teknologi ini semakin memperkuat posisi National Hospital sebagai salah satu pusat layanan kesehatan berteknologi maju di Indonesia, sekaligus menegaskan komitmennya dalam menghadirkan inovasi medis untuk mendukung pelayanan yang semakin presisi.

Mengusung tema "The Future of Neurosurgery: Ultra High Precision 0.1 Millimeter", peluncuran fasilitas ini merupakan hasil kolaborasi National Hospital, National Hospital Neuroscience Center (NHNC), Medtronic, GE HealthCare, Siemens Healthineers, dan Elo Karsa Utama.

Teknologi yang dihadirkan meliputi MRI 3T SIGNA™ Architect AIR™ dengan 128-channel dan teknologi AI, CT Scan SOMATOM Force dengan kemampuan 1152 slice dalam satu kali pemindaian, serta teknologi 3D Brain Mapping dan neuronavigasi. Integrasi teknologi ini mendukung visualisasi anatomi yang lebih komprehensif untuk membantu dokter merencanakan dan melaksanakan tindakan bedah saraf sesuai kondisi klinis pasien.

CEO National Hospital, Ang Hoey Tiong, mengatakan bahwa investasi tersebut merupakan langkah strategis untuk memperkuat kapasitas layanan neurosains di National Hospital.

“Alat yang kami bawa ini tidak pinjam, kami beli agar layanan di National Hospital lebih cepat,” terangnya.

Kepemilikan langsung atas rangkaian teknologi ini menjadi langkah strategis National Hospital dalam memperkuat kapasitas layanan neurosains sekaligus meningkatkan kapabilitas rumah sakit dalam mengadopsi teknologi medis mutakhir.

“Investasi ini tidak hanya memperluas akses terhadap teknologi bedah saraf modern di Indonesia Timur, tetapi juga mempertegas peran National Hospital dalam mendorong perkembangan layanan kesehatan berbasis teknologi di Indonesia,” tambah Ang Hoey Tiong.

Dokter Spesialis Bedah Saraf National Hospital, Dr. dr. Achmad Fahmi, Sp.BS(K) Subsp.N-Func, FINPS., IFAANS, menjelaskan bahwa teknologi neuronavigasi membantu dokter menentukan lokasi sasaran tindakan dan memantau posisi instrumen selama prosedur berlangsung. Sistem ini dapat digunakan dalam berbagai tindakan bedah saraf, baik pada otak maupun tulang belakang.

"Dengan alat navigasi ini, kita bisa mengetahui area otak yang ingin dituju, baik untuk memasang sesuatu, mengambil jaringan, maupun melakukan tindakan lainnya. Ketika instrumen bergerak, posisinya dapat dipantau secara langsung melalui sistem," kata Dr. dr. Achmad Fahmi dalam peluncuran teknologi tersebut di Auditorium Ang Kang Hoo, National Hospital Surabaya, Kamis (29/10).

Menurut Dr. Fahmi, tingkat akurasi neuronavigasi dapat mencapai kurang dari satu milimeter dalam kondisi dan prosedur yang sesuai. Ketepatan ini bergantung pada proses registrasi data pasien serta terjaganya posisi kepala selama operasi. Apabila terjadi perubahan posisi yang memengaruhi kesesuaian peta anatomi dengan kondisi aktual, tim medis perlu melakukan registrasi ulang untuk memastikan panduan navigasi tetap akurat.

Dr. dr. Achmad Fahmi menegaskan bahwa neuronavigasi bukanlah teknologi robotik yang menggantikan peran dokter, melainkan sistem pendukung yang membantu meningkatkan ketepatan tindakan.

"Teknologi ini bukan robot yang mengambil alih tindakan dokter. Sistem ini membantu menunjukkan posisi instrumen secara langsung, sedangkan dokter tetap mengendalikan dan melakukan operasi," sambungnya.

Dr. Fahmi juga menambahkan manfaat utama teknologi tersebut bukan semata-mata mempercepat operasi, melainkan membantu dokter mencapai lokasi sasaran dengan lebih terarah dan mengurangi kebutuhan mencari jalur tindakan secara berulang. Efisiensi waktu dapat menjadi manfaat tambahan, bergantung pada jenis kasus dan kompleksitas operasi.

Sementara itu, dokter Spesialis Bedah Saraf Fungsional National Hospital, dr. Heri Subianto, Sp.BS (K) Subsp.N-FUNC, FINPS, menjelaskan bahwa perkembangan teknologi pencitraan dan neuronavigasi turut mendukung pengolahan serta penyajian data anatomi otak secara lebih terintegrasi. Salah satunya melalui traktografi, yaitu pemetaan jalur serabut saraf di otak untuk membantu dokter memahami hubungan antara area yang akan ditangani dan struktur saraf di sekitarnya.

Menurut dr. Heri, integrasi pengolahan data dengan sistem navigasi membantu dokter memperoleh informasi anatomi yang dibutuhkan dalam perencanaan tindakan. Teknologi ini juga berpotensi mendukung penempatan kateter secara lebih terarah pada kasus tertentu, termasuk tindakan untuk menangani perdarahan otak.

Dengan panduan lokasi yang lebih akurat, dokter dapat mengarahkan instrumen menuju area sasaran berdasarkan hasil pencitraan dan kondisi pasien. Meski demikian, pemilihan teknik dan penggunaan teknologi tetap disesuaikan dengan indikasi medis serta pertimbangan tim dokter.

Didukung tim dokter dengan keahlian di bidang bedah saraf vaskular, bedah saraf fungsional, dan neuro-onkologi, National Hospital terus mengembangkan layanan multidisiplin yang mengintegrasikan keahlian medis dan inovasi teknologi, dengan tetap mengutamakan kebutuhan serta keselamatan pasien.


Baca artikel selengkapnya di sini:

National Hospital Hadirkan Navigasi Bedah Saraf Presisi Submilimeter, Bantu Dokter Operasi Lebih Akurat

Tim Dokter - Pertama di Indonesia Timur, National Hospital Hadirkan Teknologi Neurosurgery Ultra High Precision 0.1 Milimeter dan Terintegrasi dari MRI hingga CT Scan