Varises sering dianggap sebagai masalah yang hanya dialami oleh wanita akibat terlalu sering menggunakan high heels. Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Varises dapat dialami oleh siapa saja, baik wanita maupun pria, dan umumnya tidak berbahaya.
Namun, jika tidak ditangani, varises dapat memengaruhi kenyamanan serta kualitas hidup sehari-hari. Selain itu, masih banyak mitos dan fakta yang beredar mengenai varises. Lalu, apa saja faktor risiko dan bagaimana penanganan varises? Simak penjelasannya berikut.
Dikutip dari podcast di YouTube National Hospital Surabaya, dr. Robertus Dhany, Sp.B-TKV, dokter spesialis Bedah Toraks Kardiovaskular National Hospital, mengatakan mitos tersebut tidaklah benar. Faktanya, varises juga banyak terjadi pada pria, meskipun dahulu memang lebih banyak dialami wanita.
Dokter Robertus menyebutkann bahwa penelitian menunjukkan angka kejadian varises pada pria dan wanita saat ini sebenarnya tidak jauh berbeda. Namun, wanita cenderung lebih sering mencari pengobatan karena varises memengaruhi penampilan, sedangkan banyak pria yang mengabaikan keluhan tersebut.
"Sebenarnya itu mitos. Ternyata setelah penelitiannya bahwa varises pun dapat terjadi pada kaum laki-laki juga. Tapi memang secara presentase di dunia memang lebih banyak kaum wanita. Tapi penelitian terakhir itu angkanya sudah hampir sama," terang dr. Robertus Dhany.
Saat menggunakan sepatu hak tinggi, distribusi tekanan pada pembuluh darah vena di kaki menjadi kurang optimal. Akibatnya, kaki lebih cepat lelah dan tekanan pada pembuluh darah meningkat. Pada seseorang yang sudah memiliki faktor risiko atau varises, kondisi ini dapat memperparah keluhan yang dirasakan.
Banyak orang mengira atlet atau orang yang sering berolahraga lebih mudah mengalami varises karena pembuluh darah di kakinya tampak menonjol. Padahal, pembesaran pembuluh darah pada atlet sering kali merupakan respons fisiologis akibat aktivitas otot yang tinggi dan bukan berarti mengalami varises.
Karena itu, pemeriksaan oleh dokter tetap diperlukan untuk memastikan apakah pembuluh darah yang tampak merupakan varises atau kondisi yang normal.
Secara umum, varises bukanlah penyakit yang mengancam nyawa. Namun, jika dibiarkan, varises dapat menyebabkan berbagai keluhan yang mengganggu aktivitas sehari-hari, seperti:
Pada kondisi yang lebih berat, varises dapat menyebabkan perubahan warna kulit hingga muncul luka yang sulit sembuh. Tidak jarang luka tersebut disangka sebagai komplikasi diabetes, padahal penyebab utamanya adalah gangguan pembuluh darah vena.
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya varises antara lain:
Beberapa langkah yang dapat membantu menurunkan risiko varises antara lain:
Segera lakukan pemeriksaan apabila mengalami gejala seperti:
Dokter akan melakukan evaluasi melalui pemeriksaan fisik dan mengonfirmasi diagnosis menggunakan USG pembuluh darah (Doppler USG).
Penanganan varises disesuaikan dengan tingkat keparahan penyakit. Pada tahap awal, terapi dapat berupa:
Untuk varises yang lebih berat, tersedia tindakan medis minimal invasif, seperti:
Varises memang tidak selalu berbahaya, tetapi bukan berarti boleh diabaikan gejalanya. Semakin dini varises terdeteksi, semakin besar peluang untuk mendapatkan penanganan yang tepat dengan metode yang lebih sederhana sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih berat.
Di National Hospital, tersedia layanan skrining dan penanganan varises yang disesuaikan dengan tingkat keparahan, mulai dari terapi konservatif, skleroterapi, hingga tindakan Endovenous Laser Ablation (EVLA) yang minimal invasif. Jika Anda mengalami keluhan seperti kaki terasa pegal, bengkak, atau pembuluh darah vena tampak menonjol, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter agar mendapatkan diagnosis dan terapi yang sesuai.