Siapa sangka, cedera bahu yang serius ternyata bisa terjadi tanpa disertai rasa sakit. Hal inilah yang dialami oleh Mr. Eduard, yang baru menyadari adanya masalah serius pada bahunya beberapa hari setelah terjatuh saat beliau berada di China.
Awalnya, Bapak Eduard mengalami kecelakaan yang menyebabkan bahunya mengeluarkan bunyi "krek". Meski demikian, beliau tidak merasakan nyeri sama sekali dan masih dapat beraktivitas seperti biasa. Hanya saja, beberapa hari setelahnya, bahunya tidak bisa diangkat seperti biasa.
"Pertama ke sini itu saya tidak sakit. Jadi saya jatuh waktu itu di China, pas jatuh bahu bunyi 'krek', tapi setelah itu tidak ada masalah, saya masih kuat. Sampai sadar-sadar sekitar 10 hari kemudian saya baru sadar tangan saya tidak bisa diangkat ke atas, seperti dislokasi," ungkap Mr. Eduard.
Karena mulai kesulitan mengangkat tangan, beliau memutuskan untuk memeriksakan diri ke rumah sakit lain. Hasil pemeriksaan X-ray menunjukkan kondisi tulang masih dalam keadaan baik, hanya terdapat sedikit pecahan kecil di bagian ujung tulang. Namun, hasil tersebut belum dapat menjelaskan penyebab keterbatasan gerak yang dialaminya.
Melalui rekomendasi dari pihak asuransi, Mr. Eduard kemudian berkonsultasi ke National Hospital dengan dokter Glen Purnomo spesialis ortopedi. Setelah menjalani pemeriksaan X-ray lanjutan dan MRI, dr. Glen akhirnya merujuk beliau kepada dr. Pramono, yang memiliki kompetensi dalam menangani cedera bahu.
Saat pemeriksaan pertama, dr. Pramono menemukan adanya pembengkakan pada bahu dan menyarankan terapi laser sebanyak sepuluh kali sebagai persiapan sebelum tindakan operasi. "Setelah MRI, saya dirujuk ke dr. Pramono. Beliau lihat bahu saya bengkak, jadi harus terapi laser dulu 10 kali. Setelah itu baru ditentukan jadwal operasinya," sambungnya.
Setelah rangkaian terapi selesai, operasi pun dijadwalkan. Prosedur berlangsung selama kurang lebih lima jam. Dari hasil operasi diketahui bahwa tendon dan ligamen yang menempel pada tulang mengalami robekan sehingga perlu dilakukan penjahitan kembali.
Bagi Mr. Eduard, bukan hanya tindakan medis yang memberikan rasa tenang, tetapi juga cara dr. Pramono menjelaskan kondisi yang dialaminya secara rinci dan mudah dipahami. "Dokternya menjelaskan dengan sangat bagus. Dijelaskan masalahnya seperti apa dan apa yang harus dilakukan. Jadi kami merasa tenang. Dokternya juga ramah sekali. Saya senang dengan dokternya," pungkas Mr. Eduard.
Saat ini, Mr. Eduard sudah jauh lebih baik namun masih berada dalam tahap pemulihan pascaoperasi. Fisioterapi belum langsung dimulai karena dokter ingin memastikan proses penyembuhan jaringan yang dijahit berjalan dengan baik sebelum latihan gerak dilakukan.
Pengalaman Mr. Eduard menjadi pengingat bahwa cedera bahu tidak selalu menimbulkan rasa sakit. Ketika muncul keterbatasan gerak setelah benturan atau terjatuh, pemeriksaan yang menyeluruh sangat penting untuk menemukan penyebabnya. Dengan diagnosis yang tepat, penanganan yang sesuai, serta komunikasi yang baik antara dokter dan pasien, proses pengobatan dapat dijalani dengan lebih tenang dan memberikan harapan yang baik untuk pemulihan.