Mengenal Adenomiosis: penyakit rahim yang sering disangka nyeri haid biasa

Banyak wanita menganggap nyeri haid yang semakin berat atau menstruasi yang sangat banyak sebagai hal yang 'normal'. Padahal pada sebagian orang, keluhan tersebut bias menjadi tanda adenomiosis, yakni penyakit pada rahim yang sering terlambat dikenali karena gejalanya mirip dengan gangguan menstruasi biasa.

Meski bukan kanker, adenomiosis bias mengganggu aktivitas sehari-hari, menyebabkan anemia akibat perdarahan yang berlebihan, hingga mempengaruhi kualitas hidup. Kabar baiknya, kondisi ini dapat didiagnosis dan ditangani dengan berbagai pilihan terapi sesuai usia, tingkat keparahan gejala, dan rencana kehamilan pasien.

Apa Itu Adenomiosis?

Adenomiosis adalah kondisi ketika jaringan yang biasanya melapisi bagian dalam rahim (endometrium) tumbuh masuk kedalam lapisan otot rahim (miometrium). Akibatnya, setiap kali terjadi siklus menstruasi, jaringan tersebut ikut menebal, meluruh, dan mengalami perdarahan di dalam otot rahim.

Kondisi ini bias diibaratkan seperti dinding rumah yang seharusnya hanya dilapisi cat di permukaannya. Pada adenomiosis, "lapisan cat" tersebut justru masuk ke dalam tembok. Sehingga ketika terjadi perubahan setiap bulan, dinding menjadi lebih tebal, membengkak, dan menimbulkan rasa nyeri.

Seiring berjalannya waktu, rahim dapat membesar hingga dua atau tiga kali dari ukuran normal. Kondisi ini sering kali menyebabkan menstruasi menjadi lebih banyak, lebih lama, dan lebih nyeri dibandingkan biasanya.

Penyebab Adenomiosis

Hingga saat ini, penyebab pasti adenomiosis masih belum diketahui secara pasti. Namun para peneliti menduga kondisi ini berkaitan dengan kombinasi berbagai faktor, antara lain :

  1. Perubahan hormon, terutama estrogen
  2. Peradangan pada jaringan rahim
  3. Pertumbuhan jaringan endometrium yang masuk ke lapisan otot rahim
  4. Proses penuaan dan perubahan hormone menjelang menopause
  5. Riwayat persalinan normal berulang
  6. Riwayat operasi pada rahim, seperti operasi Caesar atau pengangkatan mioma, yang diduga dapat memengaruhi struktur dinding rahim

Meski demikian, adenomiosis juga dapat terjadi pada wanita yang belum pernah menjalani operasi rahim.

Gejala Adenomiosis

Tidak semua penderita adenomiosis mengalami keluhan. Sekitar sepertiga kasus bahkan tidak timbul gejala dan baru diketahui saat menjalani pemeriksaan karena alasan lain. Namun bila muncul gejala, keluhan yang sering muncul, meliputi:

  1. Menstruasi yang sangat banyak atau berkepanjangan lebih dari 7 hari
  2. Nyeri haid yang semakin berat (dismenorea) dari waktu ke waktu
  3. Nyeri panggul yang menetap meskipun tidak sedang menstruasi
  4. Nyeri saat berhubungan seksual (dispareunia)
  5. Muncul gumpalan darah saat menstruasi
  6. Perut bagian bawah terasa penuh atau membesar akibat pembesaran rahim

Perdarahan yang terus-menerus dalam waktu lama juga dapat menyebabkan anemia. Akibatnya, penderita mudah lelah, pucat, pusing, lemas, jantung berdebar, dan sulit berkonsentrasi.

Diagnosis Adenomiosis

Saat awal konsultasi, dokter akan lebih dahulu melakukan wawancara menanyakan gejala, siklus menstruasi, tingkat nyeri serta riwayat kesehatan pasien. Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan, termasuk pemeriksaan panggul. Bila dicurigai adenomiosis, akan dilakukan pemeriksaan penunjang untuk membantu menegakkan diagnosis. Adapun pemeriksaan penunjang yang paling sering dilakukan adalah:

  1. USG transvaginal: sebagai pemeriksaan pertama karena cukup akurat dan mudah dilakukan untuk melihat perubahan pada dinding rahim
  2. MRI panggul: pemeriksaan ini dilakukan bila hasil USG belum jelas atau diperlukan penilaian yang lebih rinci
  3. Tes darah: untuk mengetahui apakah pasien mengalami anemia akibat perdarahan menstruasi yang berat

Di masa lalu, diagnosis pasti adenomiosis hanya dapat dipastikan melalui pemeriksaan jaringan rahim setelah histerektomi (pengangkatan rahim). Namun saat ini, kombinasi gejala dan pencitraan dengan USG atau MRI sudah dapat membantu menegakkan diagnosis pada banyak kasus tanpa operasi.

Cara Mengatasi Adenomiosis

Pengobatan adenomiosis dilakukan bergantung pada usia, tingkat keparahan gejala, kondisi kesehatan, serta apakah pasien masih merencanakan kehamilan. Adapun pilihan terapi meliputi:

1. Obat Pereda Nyeri

Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), seperti ibuprofen atau naproksen, dapat membantu mengurangi nyeri haid pada sebagian pasien. Namun harus diingat bahwa pemberian obat ini hanya sementara saja sembari menunggu penanganan definitive untuk adenomiosis, jadi tidak bias dijadikan terapi jangka panjang untuk adenomiosis.

2. Terapi Hormonal

Terapi hormonal bertujuan membantu mengurangi perdarahan dan nyeri, misalnya melalui :

  1. Pil Dienogest
  2. Injeksi agonis analog Gonadotropin-Releasing Hormone (GnRH)
  3. Alat kontrasepsi dalam rahim yang melepaskan hormon levonorgestrel
  4. Suntikan atau terapi hormone lainnya sesuai rekomendasi dokter

3. Penanganan anemia

Jika perdarahan hebat menyebabkan kadar haemoglobin turun atau yang sering dikenal anemia, maka dokter dapat menyarankan suplemen zat besi atau terapi lain sesuai tingkat keparahan anemia.

4. Tindakan Operasi

Pada kasus yang gejalanya berat dan tidak membaik dengan pengobatan, tindakan operasi dapat dipertimbangkan. Tindakan operasi pada adenomiosis sangat bervariasi dan bergantung pada kondisi pasien, mulai dari prosedur pembebasan pelekatan adenomiosis dengan organ sekitar (usus, kandung kemih dan ovarium), pengambilan massa adenomiosis berupa reseksi adenomiosis – pengambilan massa adenomiosis nya saja dengan mempertahankan rahim – hingga tindakan histerektomi – pengangkatan rahim. Tindakan bisa dilakukan, baik dengan open surgery – laparotomi atau tindakan LAPAROSKOPI.

Laparoskopi adalah metode minimal invasif, dengan sayatan kecil di perut, kemudian dimasukkan kamera laparoskop dan instrumen medis laparoskopi untuk melakukan tindakan bedah. Namun dengan sayatan kecil, maka respon nyeri pasien pasca operasi bisa ditekan semaksimal nya. Pada laparoskopi, lapang pandang operasi juga dimaksimalkan berkat teknologi high definition sehingga akurasi operasi akan berjalan dengan maksimal. Saat ini, laparoskopi merupakan prosedur terpilih dalam operasi adenomiosis, baik di Indonesia maupun luar negeri.

Apakah Adenomiosis bisa menyebabkan sulit hamil?

Hubungan antara adenomiosis dan kesuburan masih terus diteliti. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa adenomiosis dapat mengurangi peluang kehamilan atau meningkatkan risiko keguguran pada wanita.

Namun, banyak penderita adenomiosis tetap dapat hamil secara alami maupun dengan bantuan teknologi reproduksi. Karena itu, jika Anda mengalami kesulitan untuk hamil disertai gejala seperti nyeri haid berat atau menstruasi berkepanjangan, konsultasikan dengan dokter spesialis obstetri dan ginekologi untuk evaluasi lebih lanjut.

Kesimpulan

Adenomiosis adalah penyakit jinak pada rahim yang terjadi ketika jaringan lapisan rahim tumbuh kedalam otot rahim. Kondisi ini dapat menyebabkan menstruasi yang sangat banyak, nyeri haid berat, perdarahan berkepanjangan, dan nyeri panggul yang mengganggu aktivitas sehari-hari.

Meski penyebab pastinya belum diketahui dan belum ada cara yang terbukti bias mencegah adenomiosis, perkembangan teknologi pencitraan membuat adenomiosis kini dapat didiagnosis lebih dini tanpa harus menjalani operasi. Dengan pengobatan yang tepat, sebagian besar penderita dapat mengendalikan gejala dan meningkatkan kualitas hidupnya.

Jika Anda mengalami gejala yang mengarah pada adenomiosis, jangan menunda untuk memeriksakan diri ke dokter spesialis kandungan agar diagnosis dan penanganan dapat dilakukan sedini mungkin. Di National Hospital, adenomiosis dapat ditangani oleh dokter spesialis kandungan yang berpengalaman, termasuk melalui tindakan laparoskopi minimal invasif pada kasus yang memerlukan penanganan bedah.

Tindakan laparoskopi ini menawarkan sayatan lebih kecil, nyeri pasca operasi yang lebih ringan, serta waktu pemulihan yang lebih cepat. Dengan dukungan fasilitas modern dan tim medis yang kompeten, National Hospital berkomitmen memberikan pelayanan yang aman, tepat, dan berfokus pada kebutuhan setiap pasien.

Tim Dokter - Mengenal Adenomiosis: penyakit rahim yang sering disangka nyeri haid biasa