Dikutip dari Cleveland Clinic, ablasi jantung atau catheter ablation adalah prosedur untuk menangani gangguan irama jantung dengan cara membuat luka kecil yang terkontrol pada jaringan jantung yang menjadi sumber atau bagian penting dari jalur listrik abnormal. Sederhananya, jantung memiliki sistem kelistrikan yang mengatur kapan otot jantung berkontraksi dan memompa darah.
Pada aritmia, aliran listrik tersebut dapat berjalan terlalu cepat, terlalu lambat, atau melalui jalur yang tidak semestinya. Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, khususnya yang memiliki keahlian di bidang elektrofisiologi, dapat menggunakan kateter untuk memetakan aktivitas listrik jantung. Setelah sumber aritmia diketahui, area tersebut dapat ditangani dengan energi tertentu.
Dua jenis energi yang umum digunakan adalah:
Teknik yang digunakan akan disesuaikan dengan jenis aritmia, lokasi jaringan yang ditargetkan, serta kondisi masing-masing pasien.
Ablasi jantung dilakukan untuk mengendalikan gangguan irama jantung tertentu. Tujuannya dapat berbeda-beda, antara lain mengurangi frekuensi dan durasi episode aritmia, mengurangi gejala, memperbaiki kualitas hidup, atau pada kondisi tertentu membantu memperbaiki fungsi jantung.
Ablasi dapat digunakan untuk berbagai jenis gangguan irama, termasuk beberapa jenis takikardia supraventrikular (SVT), atrial flutter, fibrilasi atrium (atrial fibrillation/AF), dan pada pasien tertentu takikardia ventrikel. Untuk fibrilasi atrium, salah satu target utama ablasi kateter adalah isolasi vena pulmonalis (pulmonary vein isolation/PVI).
Pendekatan ini bertujuan mengisolasi pemicu aktivitas listrik abnormal yang berasal dari area sekitar vena pulmonalis sehingga sinyal tersebut tidak lagi memicu atau mempertahankan fibrilasi atrium. Pedoman dan konsensus internasional menempatkan PVI sebagai dasar utama ablasi kateter untuk fibrilasi atrium.
Secara umum, prosedur ablasi jantung dilakukan di ruang elektrofisiologi dengan menggunakan kateter khusus. Tahapan prosedur dapat meliputi:
Sebelum tindakan, dokter akan melakukan evaluasi untuk mengetahui kondisi kesehatan pasien dan jenis aritmia yang dialami. Pemeriksaan dapat mencakup elektrokardiogram (EKG), ekokardiografi, pemeriksaan darah, pemantauan irama jantung, atau pemeriksaan pencitraan tertentu sesuai kebutuhan.
Dokter juga akan memberikan instruksi mengenai obat-obatan yang perlu dilanjutkan atau dihentikan sementara sebelum prosedur. Pada pasien yang menggunakan obat pengencer darah, pengaturannya harus dilakukan berdasarkan instruksi dokter dan tidak boleh dihentikan sendiri.
Setelah pasien mendapatkan anestesi atau sedasi sesuai kebutuhan, dokter akan memasukkan kateter melalui pembuluh darah, umumnya melalui area selangkangan. Kateter kemudian diarahkan menuju jantung menggunakan bantuan pencitraan dan sistem pemetaan khusus.
Dokter akan memeriksa aktivitas listrik jantung untuk mengetahui lokasi atau jalur yang menyebabkan gangguan irama. Pada beberapa jenis aritmia, dokter dapat memicu aritmia secara terkontrol selama prosedur untuk membantu memastikan mekanisme dan lokasi sumber gangguan irama.
Setelah area target diketahui, dokter memberikan energi pada jaringan tersebut menggunakan radio frekuensi atau, pada kondisi tertentu, cryoablation. Tujuannya adalah mengganggu jaringan yang menjadi bagian dari jalur listrik abnormal sehingga irama jantung dapat kembali lebih teratur.
Setelah tindakan, dokter akan kembali mengevaluasi aktivitas listrik jantung untuk memastikan target terapi telah tercapai dan menilai apakah aritmia masih dapat dipicu. Lama prosedur dapat berbeda-beda tergantung jenis aritmia, metode yang digunakan, anatomi jantung, serta kompleksitas tindakan.
Manfaat ablasi bergantung pada jenis aritmia dan kondisi pasien. Secara umum, tujuan tindakan dapat meliputi:
Pada fibrilasi atrium, berbagai uji klinis telah menunjukkan bahwa ablasi dapat mengurangi beban aritmia dan memperbaiki gejala pada pasien yang sesuai. Pada pasien tertentu dengan fibrilasi atrium dan penurunan fungsi pompa jantung yang berkaitan dengan aritmia, ablasi juga memiliki peran dalam strategi pengelolaan kondisi tersebut.