Ikat rahim adalah metode kontrasepsi permanen yang bertujuan mencegah kehamilan dengan menutup, memotong, atau menangani tuba falopi sehingga sperma dan sel telur tidak dapat bertemu. Tindakan ini tidak berarti rahim diangkat. Ovarium tetap berada di dalam tubuh dan tetap menjalankan fungsinya.
Dalam dunia medis, istilah yang lebih tepat adalah sterilisasi tuba atau kontrasepsi permanen, bukan "mengikat Rahim". American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) menggunakan istilah permanent contraception karena prosedur ini dimaksudkan untuk mengakhiri kemungkinan kehamilan secara permanen.
Secara sederhana, ikat rahim bekerja dengan menghalangi jalur tuba falopi yang berfungsi sebagai saluran tempat sperma dan sel telur dapat bertemu. Setelah saluran telur ditutup atau ditangani dengan metode tertentu, sperma tidak dapat mencapai sel telur. Dengan demikian, kemungkinan terjadinya pembuahan menjadi sangat rendah.
Ikat rahim tidak mengangkat rahim dan tidak sama dengan operasi pengangkatan ovarium atau histerektomi. Pada ikat rahim, rahim tetap berada di dalam tubuh. Ovarium pun tetap dapat menghasilkan hormon dan melepaskan sel telur. Karena itu, ikat rahim tidak secara langsung menyebabkan menopause. Menopause terjadi ketika fungsi ovarium berhenti secara alami, bukan karena tuba falopi ditutup.
Ikat rahim merupakan salah satu metode kontrasepsi yang sangat efektif. Berdasarkan rekomendasi CDC tahun 2024, sekitar 0,5 dari setiap 100 pengguna operasi tuba atau ikat rahim dapat mengalami kehamilan dalam tahun pertama penggunaan secara tipikal.
Meskipun sangat efektif, tetap ikat rahim tidak dapat disebut memberikan jaminan 100% bahwa kehamilan tidak akan pernah terjadi. Efektivitas dapat berbeda tergantung metode sterilisasi yang digunakan. Studi menunjukkan bahwa kehamilan masih dapat terjadi setelah ikat rahim, dengan tingkat kegagalan yang berbeda-beda menurut metode yang digunakan.
American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) juga menjelaskan bahwa kontrasepsi permanen merupakan metode yang efektif, tetapi pasien tetap perlu memahami kemungkinan kegagalan dan risiko kehamilan ektopik apabila kehamilan terjadi setelah sterilisasi.
Ikat rahim atau sterilisasi tuba sebaiknya dianggap sebagai metode kontrasepsi permanen. Meskipun pada kondisi tertentu dapat dilakukan operasi penyambungan kembali tuba (tubal reversal), prosedur ini tidak selalu memungkinkan dan tidak menjamin seseorang dapat hamil kembali. Keberhasilannya dapat dipengaruhi oleh metode sterilisasi yang sebelumnya dilakukan serta kondisi tuba dan organ reproduksi.
Bagi sebagian pasien yang ingin memiliki kehamilan setelah sterilisasi, teknologi reproduksi berbantu seperti fertilisasi in vitro (IVF) dapat menjadi salah satu pilihan. Oleh karena itu, sebelum menjalani ikat rahim, pasien perlu memahami sifat permanen tindakan ini, mempertimbangkan pilihan kontrasepsi lain yang masih dapat dihentikan atau dibalik, serta mendiskusikannya bersama dokter melalui proses pengambilan keputusan bersama.
Ikat rahim dapat dipertimbangkan oleh seseorang yang:
Tidak ada satu usia atau jumlah anak tertentu yang secara medis dapat menjadi satu-satunya dasar untuk menentukan apakah seseorang boleh atau tidak boleh mendapatkan kontrasepsi permanen. Yang penting adalah keputusan tersebut dibuat secara sukarela, sadar, dan berdasarkan informasi yang memadai. ACOG menekankan pentingnya shared decision-making, yaitu proses pengambilan keputusan bersama antara pasien dan tenaga kesehatan.
Selain menutup atau memutus tuba falopi, terdapat prosedur yang disebut salpingektomi, yaitu pengangkatan tuba falopi. Salpingektomi dapat digunakan sebagai metode kontrasepsi permanen. Dalam beberapa situasi, pengangkatan tuba falopi juga dipertimbangkan karena penelitian menunjukkan adanya potensi penurunan risiko kanker ovarium tertentu.
ACOG menyatakan bahwa salpingektomi sebagai metode sterilisasi tampak aman dan tidak menunjukkan peningkatan bermakna pada sejumlah komplikasi dibandingkan ligasi tuba. Namun, pilihan antara ligasi tuba dan salpingektomi harus dibicarakan dengan dokter berdasarkan kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien.
Perlu dipahami bahwa salpingektomi tidak menghilangkan seluruh risiko kanker ovarium, karena tidak semua kanker ovarium berasal dari tuba falopi.